Kisah Masa Lalu Dari Makam Raja Bulonggodu

Hamparan tanah tegalan yang sebagian ditutupi tanaman jagung menyimpan kebesaran masa lalu Gorontalo. Struktur kubur tua yang diperkirakan sudah ada sejak awal masa Islam Gorontalo. Inilah kubur Raja Bulonggodu, Raja Bintauna yang memerintah di wilayah pesisir utara pulau Sulawesi. Struktur kubur Raja Bulonggodu terletak di desa Dunggala Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango.

Blongkod

Bagi masyarakat Dunggala yang ada di sekitarnya, mereka lebih familiar dengan menyebut makam Atinggola, atau makam Raja Blongkod.

Meski diperkirakan pada masa pemerintahannya Islam sudah dikenal di Gorontalo namun posisi makam Bulonggodu berbeda dengan makam Islam. Kubur Bulonggodu membujur dari timur ke barat.

Romi Dayana Hidayat, Kepala Seksi Dokumentasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Utara Gorontalo dan Sulawesi Tengah yang berkedudukan di Gorontalo mencatat terdapat 4 struktur makam di area ini, dan 6 buah makam berada di luar pagar. Bukan hanya itu, ditemukan pula banyak fragmen gerabah dan keramik.

Makam yang pertama memiliki dinding yang mengelilingi bagian inti makam yang berada di tengah.  Dinding makam tersebut berbentuk persegi yang tiap sudutnya meruncing dan lebih tinggi dibandingkan bagian tengahnya yang tersusun dari bahan batu sungai, batu karang dan spesi namun belum diketahui bahan campurannya.

Dinding makam pertama ini berukuran 520 cm x 470 cm yang memiliki tinggi pada bagian sudutnya 179 cm dan tinggi bagian tengahnya 100 cm serta tebalnya 54 cm.

Pada bagian tengah dinding tersebut terdapat sebuah makam yang memiliki jarak 113 cm dari bagian utara dinding makam, 97 cm dari bagian timur dinding makam, 60 cm dari bagian barat makam, 165 cm dari bagian selatan dinding makam.

Makam tersebut berbentuk persegi panjang yang terdiri dari 2 undakan. Undakan pertama (bagian dasar) berukuran 220 cm x 134 cm dengan tinggi 15 cm. Undakan kedua  berukuran 220 cm x 100 cm dengan tinggi 54 cm. Pada bagian atasnya berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 100 cm.

Struktur makam kedua berada dalam areal pagar. terletak pada sebelah barat makam pertama dengan jarak 90 cm.

Makam kedua ini berbentuk persegi panjang dan memiliki 3 undakan dan menggunakan bahan yang sama dengan makam pertama. Pada undakan pertama (dasar) berukuran 495 cm x 350 cm dengan tinggi 62 cm dan lebar pundak 80 cm. Undakan kedua berukuran 330 cm x 205 cm dengan tinggi 58 cm dan lebar pundak 40 cm. Undakan ketiga berukuran 280 cm x 150 cm dengan tinggi 40 cm. Pada bagian atasnya berbentuk segitiga dengan ukuran lebar 150 cm, tinggi 50 cm dan panjang sisi miringnya 95 cm.

Makam ketiga berada dalam areal pagar. Makam ini terletak di sebelah barat makam yang pertama dan kedua, dengan jarak 120 cm dari makam kedua. Keadaan makam ini sudah hancur dan menyisahkan puing-puing bahan pembentuknya berupa batu sungai dan batu karang, namun masih memperlihatkan bentuk strukturnya. Makam ini berukuran 250 cm x 330 cm.

Makam keempat adalah satu-satunya makam yang paling kecil dan memiliki 3 gunungan yang berdasarkan dari wawancara Juru Pelihara bahwa ketiga itu bukan asli atau bagian dari makam tersebut, namun telah dipindahkan dari makam yang berada diluar pagar. Makam ini masih memiliki struktur asli yang jelas dengan ukuran 147 cm x 84 cm dan tinggi 14 cm

Tidak ada orang tahu keberadaan makam-makam tersebut, demikian juga siapa sebenarnya Raja Bulonggodu, bahkan catatan sejarah belum bisa mengurainya. Para petani yang menggarap ladang hanya mengenal sebagai makam Raja Atinggola.

Sejumlah orang bahkan mengangap makam ini penuh mistik dan dibingkai dengan cerita-cerita seram. Ada yang mempercayai makam ini dijaga oleh siluman kucing hitam yang mengenakan kalung rantai emas besar hingga ke ekor. Konon, orang yang melihat kucing hitam ini akan terkena bencana.

Adalah Idris Ntoma, pemilik kitab tua yang rumahnya tidak jauh dari makam yang bisa berkisah silsilah Raja Bulonggodu. Kitab yang dipercaya berumur 200 tahun dan memiliki segel masa pemerintahan kolonial Belanda ini adalah warisan keluarga yang wariskan secara turun-temurun.

Idris Ntoma yang berumur 71 tahun ini menceritakan Raja Bulonggodu yang pernah memerintah di Bintauna adalah anak Sultan Eyato yang dibuang pemerintah Belanda ke Ceilon.

Lelaki yang terlihat enerjik ini kemudian membuka kitab tuanya dan mulai membaca tulisan Arab Pegon. Silsilah raja-raja diucapkan pelan-pelan, menyesuaikan antara huruf arab tanpa harakat dan bacaannya.

Adalah Putri Ngealo yang menikah dengan Mohulinggi dan menurunkan Raja Eyato. Raja Eyato yang saat memerintah Gorontalo punya nama harum memiliki 2 istri, istri pertama adalah Putri Hudiya (Iloudiya) yang beranak Hilipito dan Putri Linggota. Istri kedua adalah Putri Dimango yang menurunkan anak Bulonggodu dan Putri Ina.

Pada masanya, Bulonggodu yang cakap diberikan kekuasaan oleh ayahnya untuk memerintah wilayah Bintauna yang terletak di sebelah timur Gorontalo.

Bulonggodu terkenal dengan istrinya yang 6 orang, Para istri Bulonggodu itu adalah Putri Dumpa beranak Pangeran Wolangan, Putri Nggeyuhi beranak Putri Maha, Putri Bilungungo (Iya) beranak Putri Telebulota, Putri Wahimolongo beranak Jogugu Talue, Putri Bintalo beranak Putri Ntouto, PutriBulalonawa, PutriPani, Putri Kaita, Putri Kingo dan Putri Sultan, Putri Botutihe beranak Pangeran Ilo(Rosyid Azhar)wale.

Bulonggoodu yang memerintah Bintauna di bagian timur Gorontalo mengapa dimakamkan di daerah sekitar Bulango? Idris Ntoma menjawab, karena Raja Bulonggodu berasal dari Bulango.

Makam Raja Bulonggodu ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional dengan SK Menteri PM.10/PW.007/MKP/2010 dan telah dilakukan pemagaran dan pembuatan papan nama situs pada tahun 2012 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo. Mengingat keempat makam yang berada dalam pagar sebagian badannya telah roboh bahkan ada yang mengalami kerusakan yang parah. (Rosyid Azhar)

Dipublikasi di Budaya | Tag , , , , , | 1 Komentar

Dumalo, Kue Tradisional Yang Masih Bertahan

Dumalo yang memiliki cita rasa manis, renyah dan gurih ternyata pembuatanya sangat menarik. Kue ini masih dapat dijumpai di pasar tradisional dengan harga yang relatif murah, Rp1.000 per buah atau sekitar Rp55.000 per toples.

Dumalo (1)

Uniknya, proses pembuatan kue Dumalo menggunakan batok kelapa yang dilubangi kecil di bagian bawahnya. Adonan kue yang kental dimasukkan dalam batok kelapa, lalu adonan kue mengalir melalui lubang-lubang tempurung ke wajan yang panas yang berisi minyak kelapa, sambil tempurung terus digoyang tanpa henti untuk membuat bentuk-bentuk unik. Setelah dirasakan cukup, tempurung diangkat dari atas wajan.

Adonan yang berbentuk unik saling bertaut di atas wajan panas, sebelum mengeras lalu dilipat dengan menggunakan penjepit bambu menjadi bentuk empat persegi panjang. Dumalo yang berwarna kecoklatan dibiarkan dalam minyak panas hingga mengeras untuk  memastikan kematangannya. Dumalo yang matang lalu ditiriskan agar minyak menetes dan diangkat.

Sebelum dimasukkan toples untuk disimpan, Dumalo yang renyah ini dibiarkan sejenak di raung terbuka.

Menurut Nita, wanita paroh baya warga Telaga Kabupaten Gorontalo yang sejak usia muda sudah menekuni pembuatan kue Dumalo, bahan pembuatnya sederhana, hanya tepung beras, gula dan air secukupnya.

Takaran bahan untuk membuat Dumalo adalah tepung beras sebanyak 2 liter, gula setengah kilogram dan air secukupnya.

Bahan-bahan ini dicampur dan diaduk hingga rata, sebelum dimasukkan dalam batok kelapa.

Ada tips menarik yang dianjurkan oleh Nita, banyak lubang dalam tempurung minimal 13 buah atau lebih agar menghasilkan Dumalo yang berbentuk unik. (Rosyid Azhar)

Dipublikasi di Budaya, Ekonomi | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Gorontalo Lokasi Favorit Fotografi Hidupan Liar

Bagi banyak fotografer, Gorontalo adalah surga untuk mengembangkan fotografi hidupan liar (wildlife photography). Posisi geografi Gorontalo yang berada di daerah Wallacea merupakan berkah keanekaragaman hayati, karena daerah ini berlimpah spesies flora dan fauna.

10177459_10203834900344414_612885760015926780_n

Hidupan liar, terutama satwanya, merupakan obyek menarik untuk dibadaikan dalam foto. Kondisi satwa yang hidup di alam berbeda dengan satwa dalam kurungan, tubuh mereka terlihat lebih sehat, memiliki tatapan mata yang kuat dan jernih, warna bulu terang dan tegas, serta berperilaku yang normal sebagai hewan liar.

Hal ini berbeda dengan satwa yang hidup dipelihara masyarakat, dalam kandang atau kurungan. Hewan ini terlihat murung dan tidak sehat.

Tidak heran jika para fotografer lebih suka memilih lokasi-lokasi yang menjadi habitat satwa liar ini, antara lain Cagar Alam Panua, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Cagar Alam Nantu, dan yang paling mudah dijangkau dari Kota dan Kabupaten Gorontalo adalah di danau Limboto.

Di danau Limboto, hidupan liar wetland atau tanah basah sangat beragam, mulai dari binatang melata seperti ular, biawak, berbagai jenis burung air dan burung pemangsa, semua bisa dijumpai di lokasi ini.

Untuk bisa mengabadikan hidupan satwa liar melalui foto, seorang fotografi idealnya memiliki peralatan kamera yang diperuntukkan untuk ini, yaitu lensa tele di atas 200 mm.

Penggunaan kamera berlensa panjang ini dimaksudkan untuk bisa mengambil foto dari jarak jauh, sebab tidak mungkin mendekati satwa liar seperti burung ular, atau soa-soa dari jarak dekat. Satwa akan kabur jika didekati.

Selain itu para fotografer harus mengenakan baju yang tidak menyolok, yang warnanya menyesuaikan dengan warna di lokasi pemotretan, bisa mengenakan baju loreng, hijau daun, atau baju yang secara khusus diperuntukkan bagi penggemar wildlife photography.

Salah satu fotografer wildlife Gorontalo yang sudah memiliki nama di tingkat nasional adalah Idham Ali, lelaki yang biasa menggunakan kamera berlensa 100-400 mm saat memotret satwa. Ia sudah menjelajah hutan-hutan Gorontalo untuk menghasilkan karya foto hidupan liar. Bahkan khusus foto burung, lebih dari 80 jenis yang berhasil ia dokumentasikan secara baik, karya ini belum termasuk satwa liar lainnya seperti babi rusa, kupu-kupu, hingga serangga.

Menurut Idham Ali, Gorontalo memiliki lingkungan yang menjadi habitat satwa liar yang masih sehat, sehingga banyak fauna mudah dijumpai. Untuk memotret hewan liar ini, tidak harus ke hutan belantara. Baginya, satwa ini dapat ditemukan di kebun, kolam, sawah, dan danau.

Dipublikasi di Alam | Tinggalkan komentar

Gorontalo Kunci Penting Pelestarian Burung Liar Indonesia

Keragaman flora fauna di wilayah hutan Gorontalo masih cukup sangat dan berpontesi untuk menambah koleksi temuan spesies baru. Namun demikian desakan manusia membuat kehidupan liar di hutan Gorontalo semakin terancam.

BURUNG INDONESIA

Tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang telah melakukan kajian keanekaragaman hayati di kawasan hutan Blok Sungai Malango – Taluditi, Provinsi Gorontalo beberapa waktu lalu menyimpulkan bahwa keragaman hayati di lokasi survei masih sangat tinggi.

Survei dilaksanakan oleh para peneliti bersama organisasi Burung Indonesia, Dinas Kehutanan dan Pertambangan Kabupaten Pohuwato dan Provinsi Gorontalo, serta Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XVI Gorontalo tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan informasi dan data dasar tentang kekayaan, keanekaragaman, struktur dan populasi berbagai jenis hidupan liar meliputi flora dan fauna yang menyusun komunitas hutan di kawasan kajian.
Hasil kajian menunjukkan keragaman hayati di lokasi survei sangat tinggi, bahkan untuk

taksa tertentu lebih tinggi dari kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone di Sulawesi Utara dan Gorontalo. Sejumlah mamalia terancam punah yang terdapat di lokasi survei di antaranya anoa, babi rusa, monyet yaki, dan tarsius.

Khusus untuk jenis burung, studi memperlihatkan, daerah kajian bekas tebangan yang masih cukup baik sebagai habitat burung diperkirakan dapat mempertahankan kekayaan jenisnya. Sedikitnya ada 87 jenis burung dari 34 suku tercatat dari survei burung yang dilakukan di wilayah Tulidu, Doyong, Dulamahe, dan Panianggata.

Hutan sekunder dapat menjadi lokasi kolonisasi baru bagi burung-burung hutan. Sementara itu, mosaik perladangan dengan fragmen hutan yang cukup luas diharapkan mampu menunjang populasi burung dan dapat menjaga keanekaragaman jenis dalam skala lanskap.

Oleh karena itu, hutan sekunder dan tipe habitat lain serta sisa komunitas hutan primer sebagai sumber keanekaragaman hayati yang perlu dijaga dengan baik mengingat masih memiliki nilai konservasi yang tinggi.

Menurut Agus Budi Utomo, Direktur Eksekutif Burung Indonesia, organisasi pelestari burung liar Indonesia, di Gorontalo banyak hutan yang pernah dieksploitasi, ada habitat satwa yang telah rusak, pihaknya saat tengah melakukan restorasi hutan rusak untuk mengembalikan kualitasnya.

Agus menambahkan pulau Sulawesi yang berada di wilayah Wallacea memiliki kekayaan burung nomer satu untuk jumlah jenis yang khas. Kekayaan fauna ini didukung oleh habitat hutan yang relatif masih utuh, habitat utama burung liar.
Kondisi ini menjadikan Gorontalo memiliki peran kunci dalam pelestarian hutan liar di Indonesia.

Dipublikasi di Alam | Tinggalkan komentar

Burung Migran Mulai Kunjungi Gorontalo

Memasuki bulan September burung-burung migran mulai mengunjungi Gorontalo. Burung ini  bisa disaksikan di sawah-sawah yang digenangi air, sungai, dan yang paling banyak disaksikan di danau Limboto.

Danau

Burung migrant ini melakukan perjalanan panjang musiman dari benua Australia ke daratan Asia dan menyinggahi daerah-daerah di Indonesia untuk beristirahat dan mencari makan. Jarak benua Australia dan daratan Asia yang mencapai ribuan kilometer ditempuh setiap tahunnya secara berkelompok untuk mempertahankan kehidupannya sepanjang tahun.

Perjalanan terbang mengangkasa yang ekstrem dan melelahkan membutuhkan tempat persinggahan untuk beristirahat dan mencari makan para burung ini.

Di danau Limboto, burung migran yang bisa disaksikan saat ini adalah ibis roko-roko (Glossy Ibis), gagang bayam (Himantopus leucocephalus), keluarga burung camar (Sternidae) jenis dara laut, jenis-jenis trinil. Burung-burung tersebut bukan burung satwa yang menetap  di Gorontalo atau Sulawesi, namun hanya menyinggahi untuk waktu yang singkat sebelum meneruskan perjalanan ke daratan asia.

Seperti burung Gagang Bayam yang memiliki paruh dan kaki panjang, burung ini merupakan jenis burung pemakan invertebrata kecil yang memiliki habitat di rawa payau, rawa tawar, danau dangkal, tepi sungai, sawah, beting lumpur, tambak garam. Tidak heran jika persawahan yang digenangi air dan danau Limboto sangat disukai.

Menurut pengamat satwa liar Gorontalo, Danny Albert Rogi, ia sering datang ke danau Limboto untuk mengamati dan mempelajari perilaku burung yang ada di sini, khususnya burung-burung air. Danau limboto merupakan lokasi pengamatan burung (bird watching) yang idela, karena di dini banyak didatangi berbagai burung.

Danny Rogi setidaknya melihat jenis burung yang mudah ditemui di sini antara lain jenis bangau,  kuntul, gagang bayam, trinil, kirik-kirik, dan jenis elang.

Khusus burung elang, Danny Rogi melihat ada beberapa jenis yang setiap hari bisa disaksikan di sini. Yaitu elang bondol yang sangat umum, elang paria, dan elang laut.

Kehadiran burung-burung ini tidak mengganggu aktifitas nelayan, burung-burung ini hanya makan hewan invertebrata. Interaksi nelayan, danau Limboto dan burung-burung ini sangat memikat untuk dilihat dan dipelajari. Ini adalah potensi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pariwisata Gorontalo di masa depan.

Sayangnya aktifitas nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan setrum listrik dapat menganggu harmoni alam danau Limboto.

Dipublikasi di Alam | Tinggalkan komentar

Bantayo Poboide, Rumah Adat Kebanggaan Masyarakat Gorontalo

Hari masih pagi, matahari bersinar cerah. Cahaya menerpa prasasti beton tepat di pusat kota Limboto, tepat di gerbang bangunan kayu bergaya tua, Bantayo Poboide.

Payu Lipu atau dasar negeri diukir sebagai prasasti, warisan para leluhur Gorontalo.

 banthayo poboide

Bangusa talalo

Lipu lo Duluwalo

Batanga pomaya

Upango potumbulu

Nyawa Podungalo

Bangsa dijaga

Negara dibela

Diri diabdikan untuk negara dan bangsa

Harta dibelanjakan untuk pembangunan bangsa dan Negara

Jiwa menjadi taruhan untuk membela bangsa dan Negara

 

Bantayo Poboide adalah rumah adat Gorontalo yang berfungsi sebagai tempat musyawarah. Para baate atau pemangku adat dan tokoh agama merundingkan berbagai masalah masyarakat dan kerajaan.

Bantayo Poboide memiliki luas 515,16 meter persegi, terletak di desa Kayu Bulan Kecamatan Limboto Kabupaten Limboto.

Di bagian depan terdapat 8 tiang, 2 yang terletak di bagian depan terluar diantaranya lebih besar ukurannya, disebut wolihi, menancap ke tanah dan menyangga langsung rangka atap.

Wolihi melambangkan kerajaan Limutu dan Gorontalo yang bertekad menjunjung persatuan dan kesatuan yang abadi sebagaimana tertuang dalam naskah perjanjian Lou duluwo mohutato Hulontalo Limutu pada tahun 1664.

6 tiang lainnya disebut Potu, yang melambangkan 6 ciri khas masyarakat lou duluwo limo lo pahalaa, yaitu Tinepo yang berarti makna sifat tenggang rasa, tombulao memiliki rasa hormat, Tombulu berbakti kepada penguasa atau pemerintah, Wuudu sesuai kewajaran, Adati patuh kepada peraturan, Butoo taat kepada keputusan hakim.

Dua tangga menghiasi bagian depan Bantayo Poboide, tangga di sisi kiri adalah tempat untuk memasuki ruangan dan sisi kanan tempat meninggalkan bangunan.

Setiap tangga terdapat 8 anak tangga yang melambangkan 8 linula yang menguatkan kerajaan Limutu, Linula Pantungo, Linula Panggulo, Linula Huangobotu Oyilihi, Linula Dulalowo, Linula Tilote, Linula Dumati, Linula Lawuwonu, dan Linula Ilotidea.

Rumah adat ini berbentuk panggung yang ditopang oleh 32 tiang dasar (potu) sebagai pondasi  bangunan. Angka 32 melambangkan  penjuru mata angin, yang berarti penguasa negeri harus memperhatikan seluruh kepentingan masyarakat tanpa mengenal pilih kasih.

Semua bangunan ini berasal dari kayu terpilih dari hutan tua Gorontalo, ukiran bunga Suku (Amu) menghias 2 tangga dan bagian dasar sulambe dan Palepelo (serambi).

Lampu kuno tergantung di langit-langit yang berhias bunga teratai besar, menyatu indah dalam temaram cahaya. Teratai menawan di keheningan danau Limboto yang luas, seakan berpindah dalam kebesaran budaya kerajaan Limutu.

Selain serambi, bangunan ini juga terbagi dalam Dulodehu yang meliputi ruang menerima tamu, tempat bersidang para baate dan tokoh agama serta ruang serba guna yang bisa dimanfaatkan untuk beberapa kegiatan kerajaan, ruang privasi raja dan keluarganya dalam kamar-kamar disebut Huwali.

Di teras bagian depan yang terhubung langsung dengan 2 tangga adalah Palepelo, yang dulunya ditempati para pengawal kerajaan saat bertugas. Dalam persidangan yang bersifat umum, bagian teras ini bisa berfungsi sebagai tempat sidang.

Pada bagian kanan, kiri da belakang bangunan disebut sulambe yang merupakan area pengawasan penjaga kerajaan sepanjang siang dan malam. Keamanan yang terjamin merupakan kunci keberhasilan pembangunan kerajaan Limutu.

Memasuki bagian dalam Bantayo Poboide, terdapat ruang-ruang dibagian tengah yang saling terhubung dalam garis lurus hingga ke pintu belakang. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu, ruang santai keluarga raja, ruang rapat rahasia, ruang makan dan ruang serba guna. Khusus ruang untuk pertemuan tertutup dan rahasia disebut Duladehu, sementara ruang serba guna dinamakan Tibongo.

Di bagian kanan dan kiri terdapat bilik sebanyak 10 buah. Pada masanya, ruang ini adalah Huwali lo Adati, tempat diletakkan semua hal yang menyangkut persidangan adat. Berhadapan dengan ruang ini adalah Huwalo lo Humbiyo, tempat pengantin yang akan melaksanakan pernikahan.

Bersebelahan dengan Tibongo, terdapat Huwali lo Tulai Bala, tempat pengawal keluarga kerajaan. Di sampingnya adalah Huwali lo Isi Kaini, seluruh busana raja dan permaisuri ditempatkan di ruang ini. Busana kebesaran harus dirawat baik sebagai lambing kerajaan Limutu. Di Huwali lo Isi Kaini juga ditempatkan upeti dan tanda kebesaran lainnya.

Di belakang Tibongo terdapat Hulipo Olongia, kamar raja dan permaisuri. Mereka tidur di kamar ini.

Berhadapan dengan kamar raja terdapat Huwali 10 Banta Pulu, tempat para putera raja.

Di belakang Huwali 10 Banta Pulu terdapat Huwali lo Wadaka, tempat para gadis cantik puteri raja tidur. Dalam aturan kerajaan di Gorontalo, putra dan putri raja tidak dalam satu kamar, melainkan dipisahkan.

Ruang makan kerajaan dinamakan Huwali lo Polamelalo, raja dan permaisuri menikmati sajian makanan di ruang ini. Huwali lo Polamelalo harus aman dari berbagai kemungkinan dari perbuatan jahat yang dimasukkan lewat makanan dan minuman.

Dan di bagian belakang terdapat dua ruang untuk para pembantu pria dan wanita secara terpisah, para abdi laki-laki menempati Huwalo lo Bubaya Lai dan yang merempuan menempati Huwali lo Bubaya Bua. Segala keperluan kerajaan harus disediakan secara cepat dan tepat, untuk itu peran para pembantu ini dilakukan secara khusus sesuai jenis kelamin. Pendekatan ini menunjukkan kecermatan yang tinggi di masa kerajaan.

Pada masa kerajaan, kamar mandi berada di setiap kamar, Ini memudahkan dalam pemenuhan kebutuhan pribadi. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan kondisi saat ini.

Saat ini, fungsi ruang di Bantayo Poboide tidak sepenuhnya difungsikan sebagai mana istana kerajaan Limutu masa lalu. Kamar-kamar dimanfaatkan untuk keperluan sidang adat dan keperluan pengelolaan kepariwisataan.

Menurut Rukmini Otaya, pengelola Bantayo Poboide, konon lokasi berdirinya bangunan ini tepat keberadaan istana raja wanita Limutu yang terkenal bijak, Putri Bungale (Mbui Bungale). Wanita perkasa yang terkenal kemolekannya ini pernah memerintah di daerah ini dengan baik, bahkan tersohor ke luar daerah.

Keharuman nama Mbui Bungale hingga kini masih tercatat, dan menjadi salah satu ratu ternama dalam sejarah Gorontalo masa silam.

Bila di Bantayo Poboide akan melaksanakan kegiatan adat, demikian juga pada masa kerajaan, maka di bagian gerbang berdiri Alikusu atau Baruadi.

Alikusu ini tersusun dari 6 batang pinang yang sudah dikuliti, 3 batang di setiap sisinya. Di atasnya ada rangkaian anyaman bambu kuning (Jalamba) yang melintang, dibuat 3 susun, semakin pendek di bagian atasnya.

Jalamba yang melintang berhias lale (janur), demikian juga lengkungan yang menghubungkan batang pinang di kanan dan kirinya.

Polohungo atau daun mayana yang menjadi bagian dari banyak ritual kuno Gorontalo juga disertakan dalam hiasan alikusu ini, ditempatkan pada batang pinang kanan dan kiri, yang bermakna Tonulahu lo Hilawo. Demikian juga 2 batang pisang dan buahnya yang bermakna Hungo lo Hilawo, 6 batang tebu berarti Buuwata lo Hilawo. Sedangkan lale memiliki arti Tuwoto to Daadata.

Bantayo Poboide yang agung saat ini selain berfungsi untuk tempat siding adat, juga diharapkan menjadi tempat penyimpanan benda-benda masa kerajaan. Koleksi berbagai macam senjata tajam, tombak dan peralatan menangkap ikan, bajak sawah, alat musik dan lainnya terdapat di tempat ini.

Menariknya, replica aneka ragam senjata bisa disaksikan di sini. Tombak panjang dengan bentuk tangkai dan mata tombak yang menarik bisa dilihat di sini, demikian juga senjata lainnya. Aneka ragam senjata ini menunjukkan masa lalu Gorontalo memiliki kemajuan pertahanan dan kemanan yang tinggi, terutama dalam menangkal bajak laut dari Mindanau, Filipina Selatan dan Tobelo. Gangguan bajak laut ini sering terdengar dalam cerita masa lalu.

Bantayo Poboide digunakan pertama kali pada 22 Januari 1985 untuk sidang pengukuhan gelar adat kepada Nani Wartabone, seorang patriot Gorontalo yang menjadi pahlawan nasional.

Rukmin Otaya juga menambahkan, kegiatan pengembangan kebudayaan, kerajinan tradisional dan kepariwisataan juga dilaksanakan di Bantayo Poboide ini.

Dua pasang busana kebesaran kerajaan bisa disaksikan di ruang Duledehu, busana ratu yang disebut Biliu dan pakaian raja yang biasa disebut Paluwala/Makuta, warna hijau dan merah, dari 4 warna kebesaran adat (tila bataila), merah, kuning, hijau dan ungu.

Di sisi lain di Duladehu terdapat sepasang busana wolimomo, baju adat yang dikenakan sepasang pengantin saat diakad (akaji).

Bantayo Poboide, yang menjadi lambing kebesaran masa lalu Gorontalo masih menyimpan nilai luhur budaya. Seperti pesan adat (Tahuli) yang disampaikan Martin Liputo, Bupati Kabupaten Gorontalo saat peresmian pada 15 Januari 1985 :

 

Ulipu Matahuliya

Popoheluma Loiya

To Bantayo Poboide Botiya

U Bilango Siladiya

Limutu Hulontalo

Dahayi Mawalo

Hulontalo LLimutu

Dahayi Moputu

Tahuda li Popa Wawu Eyato

Uduluwo Mohutato

Tadiya Pilo Luwoto

Tamuyo Wawu Leboto

Motihelumo Mobibiya

Alihu Diya Motila

Moponu Motabiya

Tahuli Motahuliya

Kawuli Molumboyoto

Piili Molimomoto

Rahamati Tumuwoto

Umopiyo Dumooto

Adati Popohuliya

To Pohalaa Limo Botiya

To Lahuwa Wawu Lingguwa

To Data Poliyatuwa

To Madala Wawu Hunggiya

To Uyito to Utiya

Tahuda Pootahuwa

Ulipu Poponuwa

Penulis : Rosyid A Azhar

Dipublikasi di Budaya | Tinggalkan komentar

Jambore Fotografi Gorontalo (JFG) 2 : Persembahan MFG Untuk Gorontalo

 Setelah sukses menggelar Jambore Fotografi  Gorontalo (JFG) pertama pada tahun 2011 di desa Bongo, Masyarakat Fotografi Gorontalo (MFG) kembali menggelar JFG 2 yang bertempat di Desa Lombongo, Bone Bolango, Selasa (25/12).

Sebagian peserta Jambore Fotografi Gorontalo (JFG) 2 di Lombongo, yang dilaksanakan oleh Masyarakat Fotografi Gorontalo (MFG).

Sebagian peserta Jambore Fotografi Gorontalo (JFG) 2 di Lombongo, yang dilaksanakan oleh Masyarakat Fotografi Gorontalo (MFG).

. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Budaya | Tag , , , , , , , , | 1 Komentar