Semangat Walima Bangkitkan Masyarakat Desa Bongo, Gorontalo

Gersang dan tandus. Sepanjang mata memandang perbukitan kapur yang ditumbuhi perdu yang ada. Kelok jalan desa sempit beraspal melegakan perjalanan. Untunglah pantainya memberikan kesejukan angin laut tanpa henti, Desa Bongo, Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, mencoba bangkit dari kemiskinan dan keterbelakangan dengan semangat kecintaan pada Rasul, perayaan Walima yang digelar setahun sekali, dari generasi ke generasi.

………….

WALIMA  adalah tradisi peringatan Kelahiran Nabi Muhammad yang sudah ratusan tahun dijalani masyarakat. Meski di daerah lain juga memiliki tradisi serupa, namun di Bongo lebih terasa khas karena tradisi ini dilakukan dengan unik, kecintaan dan kesetiaan tertuang dalam alunan Dikili (dzikir), kolombengi dan keindahan Tolangga.

Santri desa Bongo dengan baju serba putih mengusung kue walima ke masjid desa. Sepanjang jalan lantunan shalawat bergema mengiringi prosesi ini

Sebulan sebelum perayaan dilaksanakan, terutama kaum wanita desa pesisir utara Teluk Tomini ini sudah berbenah. Mereka sudah menyiapkan bahan-bahan makanan, perlengkapan hingga alat masak. Seperti yang dilakukan Farida, perempuan setengah baya ini juga sibuk merencanakan pembuatan kue kolombengi kering. Terigu, gula, telur harus dihitung berapa banyak yang diperlukan. Simpanan uang yang berbulan-bulan sebelumnya disimpan segera ditukarkan dengan bahan makanan tersebut.

Dua tolangga, usungan berangka kayu dan rotan setinggi 1,5 meter yang akan dihias dan dipenuhi kue kolombengi sudah disiapkan.

“Ini kebiasaan lama masyarakat di sini, saa tidak tahu sejak kapan dimulai. Kami hanya mewarisi dari leluhur kami, sejak kecil kami sudah menyenangi Walima, banyak kue dan makanan enak, sekarang kami senang melaksanakan” tutur Farida yang rumahnya bersebelahan dengan Masjid At-Taqwa, pusat pelaksanaan Walima.

Ia dan juga penduduk desa Bongo lainnya  melakukan hal yang sama dengan ritme yang sama pula. Persiapan pembuatan kue dilakukan seusai mengerjakan rutinitas sebagai istri nelayan, terutama setelah shalat Isya. Sambil bercengkerama bersama keluarga yang turut membantu, mereka menikmati pekerjaan ini.

Angin di sepanjang pantai Bongo tak mampu mengusir bintik keringan di keningnya. Pemanggangan kue berbahan bakar kayu terus memanas, asap tipis terbawa angin membawa aroma keharuman kolombengi hingga di puncak bukit.  Mengabarkan kedatangan bulan Maulid.

 

“Tradisi ini sudah melekat pada diri kami, saat seperti ini memang melelahkan, tapi kami gembira karena ini perayaan setahun sekali” tutur Farida.

Sore menjelang perayaan walima pada besoknya, Farida sudah siap dengan 8 kg campuran beras dan ketan untuk kue lalampa, secama lemper. Bersamaan dengan iitu para lelaki Bongo tanpa dikomando membersihkan masjid, jalan sepanjang desa Bongo, dan memasang hiasan janur  dan lampu yang gemerlap.

Kaum muda sibuk menata kue kolombengi yang terbungkus plastik panjang di tolangga, laki perempuan fokus pada pekerjaan ini, mereka menghias serapi mungkin, sesekali diselingi canda gurau, saling mengakrabkan, hingga tidak terasa tolangga sudah penuh dibalut kue kering.

Menjelang malam selepas shalat Isya, orang-orang desa berdatangan ke masjid At-Taqwa sambil membawa buku lusuh yang berisi syair dan ayat. Perlahan ruang bagian tengah masjid dipenuhi jamaah, Dikili pun berkumandang dengan lantang. Gemanya memantul di punggung bukit bercadas, bersahutan, mengingatkan tentang keagungan Sang Pencipta, mengingatkan untuk bekerja dengan giat, mengingatkan untuk berbuat baik, mengingatkan untuk bersyukur dan mengingatkan untuk memupuk silaturahmi.

Dikili, tradisi lisan dzikir khas Gorontalo yang berumur ratusan tahun tetap terjaga, Sanjungan kepada Muhammad tiada henti, kaum nelayan Bongo memujinya dengan caranya tersendiri, kecintaan mereka kepada Al-Amin melebihi batas nalar, kecintaan yang abadi kepada sang Nabi.

Tradisi lisan berkembang di tanah Gorontalo, seperti yang dilakukan msyarakat desa Bongo saat perayaan Walima. Mereka melantunkan Dikili sepanjang malam hingga pagi.

Sepanjang malam pujian Dikili tanpa henti hingga bertaut Subuh, para lelaki dan wanita terbuai syair, dan berlanjut hingga matahari mulai meninggi.

Minggu pagi, setiap keluarga menyelesaikan usungan Walima (tolangga yang dipenuhi makanan) yang telah diuntai dengan Kolombengi aneka rupa, membentuk kubah memanjang. Di bagian bawah Tolangga, kaum wanita sibuk menata dan meletakkan toyopo yang berisi panggang ayam atau yang lainnya. Toyopo tidak saja rapi dalam anyaman janur, namun juga mengundang selera karena ayam panggang utuh, nasi kuning, telur, dan wapili.

Sinar matahari pagi keemasan menghangatkan dedaunan perdu, kupu-kupu, burung beterbangan mencari makan. Satu persatu setiap keluarga mengeluarkan walima dari rumahnya untuk dibawa ke masjid At-Taqwa, ada yang dipikul beberapa orang, atau dinaikkan dalam gerobak.

Aneka bentuk usungan walima memikat pengunjung yang sejak malam berdatangan di desa ini. Walima. Bahkan ada bentuk perahu, pesawat, maupun kubah masjid. Demikian juga dengan bentuk kolombenginya, ada yang menyerupai ikan, bintang, belimbing.

Jalan-jalan desa marak dengan prosesi orang mengantar usungan walima, santri muda dengan baju putih-putih dengan melafalkan dzikir bergerak memikul walima. Pandangannya penuh cinta dan kesetiaan pada Rasul.

Hilir mudik santri berjubah putih panjang dan bersorban paling sibuk mengangkuti walima, sementara pemangku adat mengawasi prosesi.Deretannya memanjang mengantre untuk didaftar, diberi nomor sebelum dinilai.

Perayaan Walima di Bongo merupakan tradisi tua yang terus terjaga, dilaksanakan penuh kepatuhan dan kecintaan, dan mendapat dukungan penuh dari tokoh desa Bongo yang telah menasional, Yosep Tahir Ma’ruf. Ia sadar, diperlukan lompatan “gila” untuk mengubah masyarakatnya. Tidak sedikit uang dari koceknya yang dikucurkan untuk perayaan ini, setiap tahun. Bahkan untuk menjamu tamu di rumahnya, seekor sapi disembelih, tidak terhitung banyaknya ikan laut. Demikian juga dengan walima yang khusus dibuatnya.

Kue tradisional khas Walima yang selalu terhidang untuk tetamu, terutama bagi pembaca dikili

Di Bongo terdapat 850 kepala keluarga, dan setiap warga merayakan dengan membuat kue. Yang mampu membuat tolangga yang berhias kolombengi dan toyopo, ada ratusan yang dijejer di halaman masjid. Setiap walima rata-rata menghabiskan 500-800 kolombengi. Farida dan keluarga lainnya telah menganggarkan Rp1 juta – Rp3 juta, bahkan ada yang lebih.

“Walima itu ekspresi kebahagiaan yang diwujudkan dalam karya seni dan spirit kerja yang tinggi. Totalitas dalam maulid Nabi tidak membuat masyarakat jadi miskin, setiap tahun makin ramai, bahkan setiap perayaan Walima datang, orang Bongo selalu gampang mencari ikan tuna. Ini berkah yang harus disyukuri” kata Yosep menjelang pagi.

Ia menegaskan bahwa kekuatan Walima sesungguhnya ada di masyarakat, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mandiri yang dikelolanya dan menjadi motor dalam festival Walima hanya membuat kemasan agar peristiwa budaya ini lebih meriah dan terkoordinir.

“Obsesi saya adalah membuat Bongo ini menjadi Desa Wisata Religius” lanjutnya. Sejak 1997 ia telah dirintis pembangunan, mulai dari marketing Walima, membangun masjid Walima Emas di atas bukit, penanggalan Hijriyah terbesar di dunia, kolam renang santri dan khusus wanita, dan ke depan akan dibangun istana bagi para penghafal Al-Quran, juga menyulap rumah-rumah warga menjadi kamar hotel sekelas bintang lima serta restoran termahal di Indonesia. Untuk menjual mimpinya, Yosep akan menggarap pasar Timur Tengah.

“Saya 9 tahun jualan kue keluar masuk kampung, selama itu pula kepala saya menyunggi panasnya sabongi dan pisang goreng, mungkin ini yang membuat saya gila” guyonnya sambil mengingat masa lalunya yang getir.

Ribuan warga menghadiri pesta Walima, tidak menghiraukan terik matahari membakar ubun-ubun. Pesta cinta pada Nabi belum berhenti, malam harinya Dikili masih digelar di masjid atas desa Bongo di saat warga yang lain pulas dalam kenyang nikmatnya kolombengi.

Kini Bongo sudah memiliki roh untuk bangkit dari ketertinggalannya. Di luar perayaan Walima, Bongo setiap akhir pekannya dikunjungi ratusa wisatawan. Mereka menikmati kolam renang, makanannya, kesejukan di area pesantren, dan keramahan masyarakatnya.

Tidak sulit mendapatkan souvenir khas Bongo. Di Yotama Art Gallery beragam cendera mata dapat dibeli dengan harga murah. T-Shirt dengan gambar bangunan menyerupai tolangga, kue kolombengi, makanan ringan lainnya hingga sarung putih bersih bisa didapat di sini.

Berlibur di Bongo semakin nikmat karena tidak terputus dengan dunia luar. Tepat di depan pesantren Bongo terdapat BTS Telkomsel yang siap melayani kebutuhan komunikasi dan data pelancong. Ayo, datang dan kunjungi Bongo untuk lebih mengenal Indonesia.

(Rosyid A Azhar, Gorontalo)

 

Iklan

Tentang GORONTALO HOLIDAY

Warga Gorontalo yang menyukai pertemanan, diskusi dan sedikit fotografi serta tulis-menulis
Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Semangat Walima Bangkitkan Masyarakat Desa Bongo, Gorontalo

  1. vian berkata:

    wah.. menarik yah.. baca juga artikel Desa Bongo The beautifull village di http://www.ide-vian.com/2012/06/bongo-beatiful-village.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s