Burung Maleo Bertambah, Tetap Saja Berstatus Genting

LIMA bulan terakhir ini kunjungan burung Maleo (Macrocephalon Maleo) di kawasan Hungayono Taman Nasional  Bogani Nani Wartabone (TNBNW) meningkat, lebih dari biasanya. Setiap hari pasangan abadi burung Maleo bisa disaksikan melintas di atas sungai Bone, atau sedang menggali tanah di lubang-lubang peneluran yang hangat karena panas bumi. Namun ancaman yang datang dari manusia terus mengintainya. Burung endemik Sulawesi berstatus genting. 

Telur burung Maleo (Macrocephalon Maleo) besarnya 5-8 kali telur ayam kampong. Burung endemik Sulawesi ini hanya bisa menetas di tanah yang ada sumber panas buminya atau di pasir pantai yang belum terjamah manusia. (Rosyid Azhar)

MALEO adalah burung unik, karena memiliki telur yang sangat besar bila dibandingkan dengan tubuhnya. Panjang Maleo sekitar 55 cm dengan telur seberat 240-270 gram setiap butirnya atau memiliki panjang rata-rata 11 cm, 5-8 kali ukuran telur ayam kampung.

Di Kawasan Hungayono TNBNW yang seluas 6 hektar, burung Maleo bebas terbang dan memilih lubang peneluran yang disukainya. Ada ribuan lubang, namun tidak semuanya aktif digunakan. Setiap pagi sebelum matahari muncul, Maleo yang selalu berpasangan datang untuk bertelur, hingga sekitar jam 9.
Pasangan ini bergantian membongkar tanah gembur dengan sepasang kakinya yang kokoh, membuat lubang antara 30-60 cm. Setelah melatakkan telurnya, kedua burung ini akan menimbun kembali hingga tanah rata, dan kemudian terbang di rerimbunan rimba.

Usman memperlihatkan telur Maleo yang baru diambil di alam sebelum dimasukkan dalam hatchery. (Foto Rosyid Azhar)

“Ada yang menggembirakan selama 5 bulan terakhir ini. Ada peningkatan kunjungan Maleo di kawasan Hungayono, indikatornya adalah semakin banyak telur” kata Usman, staf lapangan Wildlife Conservation Society (WCS), lembaga yang selama ini melakukan upaya konservasi Maleo di TNBNW. Ia dibantu staf lokal warga desa terdekat setiap harinya memindahkan telur Maleo ke hatchery buatan. Pekerjaan ini dilakukan untuk menyelamatkan telur Maleo ini dari predator alaminya, seperti soa-soa (biawak), tikus, ular, babi hutan, semut hingga burung elang. Telur yang ditemukan ditimbang, diukur dan dicatat. Pekerjaan ini dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun. Ketekunan para staf lapangan WCS ini menghasilkan catatan penting tentang burung terancam punah ini. Telur yang dipindahkan saat ditempatkan di hatchery harus sama persis kondisinya seperti di alam, ini untuk mengurangi kegagalan menetas. Panas bumi (geothermal) akan “mengerami” telur Maleo selama 60-62 hari.

Salah satu keunikan lain dari Maleo ini adalah saat menetas burung ini langsung bisa terbang. Anakan Maleo menetas dalam tanah, ia berjuang keras untuk muncul di permukaan tanah. Setelah itu ia juga harus mencari makanan sendiri tanpa bantuan kedua induknya. Ini perjuangan yang berat bagi bayi Maleo.

Pencatatan telur maleo yang baru diambil. (Foto : Rosyid Azhar)

Sama seperti telur, anak maleo juga akan diukur, ditimbang dan dicatat sebelum dilepas ke alam. Bagi Usman, kondisi 5 bulan terakhir ini sangat menggembirakan. Selama kurun waktu tersebut ada peningkatan telur yang didapat, sekitar 70 butir setiap bulannya, ini berbeda dengan sebelumnya yang hanya 40 butir. Peningkatan ini berarti akan menambah individu baru, populasi akan meningkat. Peningkatan ini tidak serta merta menjadi kabar yang menyenangkan, ancaman langsung maupun tidak langsung dari peladang dan pertambangan di TNBNW membuat dunia maleo menjadi suram di masa datang. Usman merasa khawatir, jika desakan perladangan maupun pertambangan terus merangsek ke kawasan Hungayono dan sekitarnya, diprediksi habitat maleo akan rusak. Apalagi burung ini hanya bisa menetaskan telurnya di kawasan yang ada panas buminya atau di pasir pantai. Jika area Hungayono yang ada panas bumi sudah terusik, di mana lagi maleo Gorontalo akan menetaskan telurnya?

(Rosyid Azhar – Gorontalo)

Iklan

Tentang GORONTALO HOLIDAY

Warga Gorontalo yang menyukai pertemanan, diskusi dan sedikit fotografi serta tulis-menulis
Pos ini dipublikasikan di Alam dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s