Dukungan Pico BTS Telkomsel, Petani Dulamayo Nikmati Harga Kemiri

Ada yang unik di desa Dulamayo, desa terpencil yang berada di ujung kecamatan Telaga kabupaten Gorontalo. Desa yang hanya mengandalkan akses satu jalur jalan mungil ini merupakan daerah dingin, ini berbeda dengan kondisi pada umumnya Provinsi Gorontalo.

………………………

Namun tidak disangka jika desa ini merupakan penghasil tanaman perkebunan seperti kemiri, cengkeh, vanili, termasuk buah durian dan langsat. Para petani desa Dulamayo saat ini sedang menikmati harga kemiri yang mencapai Rp27.000 per kg kering.

Di wilayah ini kemiri merupakan tanaman perkebunan yang banyak dibudidayakan masyarakat setempat. Tanaman ini tumbuh subur dengan produksi buah yang relatif bagus dan berbuah sepanjang tahun.

Buah kemiri tumbuh subur di desa Dulamayo Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo

Permintaan pasar yang meningkat membuat harga kemiri terkatrol naik hingga Rp27.000 per kg. Harga ini merupakan harga tertinggi yang dirasakan dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya mereka menjual kemiri hanya berkisar antara Rp23.000 hingga Rp25.000 per kg.

Dahulu, para ppetai Dulamayo lebih banyak didekte oleh pedagang. Mereka menerima harga yang ditetapka  pedagang pengumpul, tanpa bisa memilih alternaf lain.

Dengan bantuan Pico BTS milik Telkomsel yang dipasang di depan kantor desa Dulamayo, petani kemiri sekarang lebih menikmati hasil panenannya. Para petani bisa dengan leluasa memilih pedagang yang berani menawar harga tinggi. Ini dilakukan berkat sarana komunikasi seluler yang mereka lakukan.

Kalau panen kemiri, mereka menjual komoditas ini ke pedagang yang berani mengambil dengan harga terbaik.

Di Dulamayo, masyarakat sudah sangat familiar dengan tanaman kemiri. Mereka memunguti buah kemiri yang sudah tua dan menjemurnya sebelum diolah untuk dijual. Proses produksi yang sederhana umumnya dilakukan oleh kaum perempuan di sela aktifitas dalam rumah tangganya.

Sejarah hadirnya Pico BTS ini unik karea letak desa Dulamayo yang terpencil. Awalnya di desa ini tidak ada jaringan listrik, tidak ada komunikasi yang bisa dilakukan oleh warga desa ini dengan penduduk di luar desa selain harus melakukan perjalanan kendaraan motor.

Pico BTS Melayani Masyarakat

Kondisi dan keterbatasan seperti ternyata tidak menyurutkan Telkomsel untuk membangun BTS mungil ini. Bahkan untuk menghidupkan BTS ini Telkomsel  harus memasok listrik dengan menempatkan genset yang menggunakan solar.

“Pembangunan Pico BTS ini merupakan komitmen Telkomsel untuk memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat Indonesia, sekalipun tidak ada jaringan listrik. Secara perhitungan ekonomi, mungkin ini tidak layak, namun Telkomsel hadir bukan semata untuk mencari keuntungan semata. BTS ini akan membuka keterisoliran warga Dulamayo, mendorong pertumbuhan ekonomi dan pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan setiap warga Dulamayo” papar Estining Putut, Pimpinan Telkomsel Gorontalo saat pembangunan Pico BTS ini.

Kehadiran Pico BTS ini diharapkan memberi solusi komunikasi yang signifikan bagi masyarakat desa. Dulamyo yang selama ini identik dengan keterisoliran kini sudah mampu sejajar dengan daerah lain yang lebih maju. Bahkan setap akhir pecan desa ini menjadi alternatif warga Gorontalo untuk berwisata, menghirup udara pedesaan yang sejuk sambil menikmati buah-buah khas daerah pegunungan tanpa kehilangan komunikasi dengan keluarga dan relasi.

“Jika ada waktu di akhir pekan, saya ajak keluarga ke Dulamayo untuk berwisata. Air sungainya yang jernih dan udara yang sejuk membuat kami berlama-lama di sini. Selama ini Gorontalo kan di kenal memiliki udara yang panas, nah di Dulamayo ini kesejukan dapat dinikmati” kata Neny, warga Kota Gorontalo.

Potensi desa Dulamayo yang bisa dikembangkan di masa datang. Perkebunan tanaman keras seperti coklat, kemiri, durian, langsat, kayu manis sudah lama dibudidayakan masyarakat dan telah menjadi tulang punggung ekonomi mereka.

Potensi lain yang sedang menggeliat adalah pariwisata. Desa ini memiliki udara segar dengan pemandangan khas pegunungan. Sungai kecil dengan aliran yang deras berkelok penuh bebatuan sepanjang hari mengalirkan air yang jernih. Hutan yang dipenuhi kayu rimba merupakan lokasi petualangan yang menantang.

Kemiri kering setelah dijemur siap dibersihkan dan dijual. Berkat ada layanan Telkomsel petani Dulamayo bisa memilih pedagang yang menawar lebih tinggi

“Ternyata di Dulamayo ada hutan pinus yang ditanam masa pemerintah kolonial Belanda. Hawanya sejuk, ada camping ground yang bagus. Di lokasi ini pemandangan danau dan kota Limboto yang berselimut kabut dapat dilihat dari atas pegunungan” kata Rudy, aktifis lingkungan yang sering menjelajah pegunungan.

Menariknya, di lokasi camping ini pengunjung justru dapat menikmati layanan jaringan Telkomsel sepanjang hari. Signal yang kuat dan berkualitas mendukung setiap aktifitas pelancong.

“Kami biasa mengekspresikan perasaan di hutan ini kepada teman-teman yang berada di Limboto atau di kota Gorontalo, ada kalanya juga bercanda, mengabarkan keindahan Gorontalo dari pegunungan Dulamayo” pungkas Rudy.

Pico BTS ini masih berdiri. Untuk supply listriknya sudah tidak menggunakan genset lagi. Warga Dulamayo bersama pemerintah telah memanfaatkan aliran sungai di pinggir desa. Arus sungai ini dimanfaatkan untuk menggerak kincir air besar, berputar setiap hari, menggerakkan turbin yang berubah menjadi listrik.

Batang kayu manis yang telah dikupas kulitnya. Tanaman ini tumbuh subur di desa Dulamayo dan salah satu komoditas yang diperdagangkan masyarakatnya

Sekarang kincir ini masih berdiri, namun tidak berputar lagi. Sejak ada mesin yang lebih efisien, penggunaan kincir telah dialihkan. Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLMH) telah memberi manfaat kepada warga desa,

Desa Dulamayo telah sejajar dengan desa lainnya, bisa berkomunikasi dengan nyaman dan juga ada lampu listrik yang benderang.

Hanya Telkomsel yang mau merintis pembangunan komunikasi di Dulamayo. Padahal di Provinsi Gorontalo terdapat beberapa operator seluler.

 (Rosyid A Azhar – Gorontalo)

Iklan

Tentang GORONTALO HOLIDAY

Warga Gorontalo yang menyukai pertemanan, diskusi dan sedikit fotografi serta tulis-menulis
Pos ini dipublikasikan di Alam dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Dukungan Pico BTS Telkomsel, Petani Dulamayo Nikmati Harga Kemiri

  1. ujiarty berkata:

    andai saya menjadi seorang penerbit saya bikin bacaaan real culture buat mas rosyid dan teman2 yang punya cerita dokumentasi dan sejarah bernilai..krn saya sangat menyukai.

  2. suwitopoms berkata:

    Ngga bisa berkata apa-apa sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di kampung ini. Perkampungan yang damai, masyarakatnya ramah. Walaupun letaknya di pinggiran gorontalo, tapi masih ada signal telkomsel loh… xixixixixixi

  3. Ella berkata:

    jadi penasaran pengen main kesana klo weekand… hehhehe!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s