Perempuan Bangga Melawan Kemiskinan : Meningkatkan Nilai Tambah Ikan Rowa

Kondisi tanah perbukitan tandus membuat penduduk desa Bangga, Paguyaman Pantai, kabupaten Boalemo mengharuskan mereka “berladang” di laut untuk menghidupi keluarganya. Hanya lamtoro liar dan perdu yang tumbuh di bukit-bukit Bangga, sedikit jagung diusahakan di tanah yang memungkinkan tumbuh. Dalam kondisi seperti ini, perempuan Bangga mencoba bangkit dari keterpurukan ekonomi.

Uni Dama, ketua kelompok pengrajin abon rowa memperlihatkan rowa yang baru diasapnya. (Foto : Rosyid Azhar)

Jalan sepanjang 3 km dari ibukota kecamatan yang menuju desa Bangga tidak hanya dilalui masyarakat dan kendaraan, dalam musim hujan seperti ini air leluasa mengalir dan menggerusnya hingga meninggalkan cerukan memanjang hingga dekat perkampungan, sulit dilalui kendaraan, bahkan sebuah mobil Kijang Innova harus menurunkan penumpangnya untuk dapat melaluinya agar tidak kandas bagian bawahnya.

Jalan ini menurun, berkelok menuju perkampungan warga. Kanan kirinya ditumbuhi perdu dan lamtoro liar, di sisi kanan agak jauh terbentang perbukitan yang baru saja dibersihkan dari pepohonan, jagung mulai tumbuh, jika hujan sebagian  kulit bukit ini terbawa air menuju bagian paling bawah sebelum ke pantai.

Desa Bangga dengan latar belakang perbukitan tandus. (Foto : Rosyid Azhar)

Seperti halnya permukiman nelayan lainnya di Gorontalo, desa Bangga yang berpenduduk 114 KK atau 452 jiwa terlihat kumuh, meski terdapat rumah beton namun tidak sedikit rumah nelayan semipermanen beratap daun katu dengan lubang dinding menganga, angin laut bebas menerobos ke dalamnya.

Di samping rumahnya, Ara Mosi, perempuan paroh baya dengan rambut diikat sekenanya membelah kelapa tua untuk diambil santannya, dua orang anaknya yang masih kecil membersihkan rica dari tangkainya di depan pintu dapur, tidak ada penerangan listrik di dapur ini. Pagi itu hari Minggu, sekolah libur, dan anak-anak membantu orang tua sebelum puas bermain di pantai.

Dua anak Ara Mosi dan Cii Pane membantu mamanya mengupas rica. (Foto : Rosyid Azhar)

Ara Mosi dan juga perempuan Bangga lainnya setiap hari harus mampu memutar otaknya agar penghasilan suaminya dari menangkap ikan yang tidak banyak itu dapat mencukupi keluarganya. Baginya, yang penting anak-anak bisa makan.

Ara Mosi membelah kelapa sesaat matahari terbit, menyiapkan sarapan bagi keluarga. (Foto : Rosyid Azhar)

Ka Cii Pane, suami Ara Mosi adalah nelayan tradisional yang hanya memiliki ketinting kecil. Karenanya, Ka Cii Pane hanya bisa menyusuri pantai untuk mendapatkan ikan, ia tidak bisa melaut jauh untuk mendapatkan tuna atau ikan bernilai ekonomi tinggi lainnya. Paling-paling ia hanya menangkap ikan batu kecil atau ikan terbang, yang satu ikatnya (20 ekor) dihargai Rp5.000 di pengumpul dekat rumahnya. Dalam sehari saat musim barat seperti, ia membawa 100-200 ekor Antoni.

Nelayan desa Bangga menurunkan ikan Rowa dari perahu. Masyarakat desa ini dikenal penangkap Rowa yang handal. (Foto : Rosyid Azhar)

Dalam kondisi yang serba kurang, suami istri ini masih bersyukur ada tempat penampungan hasil tangkapan, setidaknya saat ini ada 3 penampungan yang aktif membeli ikan nelayan. Jika tidak ada, sangat sulit baginya untuk menjangkau pasar sebab ia tidak memiliki kendaraan. Tidak heran jika di desa ini kemiskinan merupakan masalah utama.

“Yang paling susah ini kami perempuan, seberapapun penghasilan suami harus mampu mencukupi kebutuhan. Adakalanya suami melaut tanpa hasil” papar Ara Mosi sedih.

Ara Mosii anggota kelompok Sadar Lingkungan (KSL), masuk dalam tim pembibitan mangrove, sebagai Mangrove pengambil bibit propagul dan menanamnya di polybag di lokasi pembibitan kawasan konservasi yang berukuran 6X8 meter.

Menanti bibit mangrove membuka “mata”. (Foto : Rosyid Azhar)

Bibit mangrove biasanya dipesan oleh dinas kehutanan dengan harga Rp500/bibit, hasil penjualan dibagi rata ke anggota kelompok KSL sebanyak 30 orang (seimbang waniita/pria). Dinas Kehutanan Boalemo pernah beli 20.000 bibit.

KSL dibentuk oleh Program Teluk Tomini untuk pelestarian mangrove di Bangga, kemudian menjadikan sebagai sentra pembibitan di kabupaten Boalemo. Kerja nyata kaum wanita ini akhirnya berbuah transaksi, meski pada awalnya tujuan kelompok hanyak mempertahankan kawasan mangrove di wilayahnya.

Tanaman Mangrove yang disemai di samping perkampungan desa Bangga, mulai tumbuh daun baru. (Foto : Rosyid Azhar)

Keinginan untuk memiliki penghasilan sendiri terus bergejolak, akhirnya melalui mediasi Jacob Botutihe, pendamping desa dari Program Teluk Tomini, Ara Mosi dan juga kaum wanita Bangga lainnya berhimpun membentuk usaha sendiri. Mereka sepakat membuat abon rowa. Sebuah pilihan yang didasarkan atas ketersediaan bahan baku di sekitarnya.

“Ikan rowa kan sudah tersedia, satu kali buat abon menghabiskan 3 pak rowa sekitar 30 gepe atau 600 ekor” papar Uni Dama, ketua kelompok yang membawahi 10 wanita. Proses pembuatan abon cukup rumit, tahap awalnya mengupas rowa dengan mengeluarkan kulit dan kepalanya, lalu mengambil daging dan membuang tulangnya, setelah itu daging rowa diblender hingga hancur dan ditumis dengan menggunakan rempah-rempah. Tahap akhirnya rowa digoreng hingga kering dan dipindahkan ke spinner untuk mengurangi kadar minyaknya.

Kaum perempuan menguliti ikan rowa yang telah diasap untuk diambil dagingnya. (Foto : Rosyid Azhar)

“Satu kali proses dapat 35 bungkus abon dengan harga jual Rp20.000 perbungkus” kata uni.

Uni mengaku pembuatan abon rowa ini masih perlu penyempurnaan. Harga jualnya masih belum kompetitif, namun diakuinya cita rasa yang khas ini merupakan keunggulan produk ini. Di tempat lain tidak ditemukan citarasa yang spesial ini.

“Alhamdulillah, upaya ini mulai ada hasilnya. Semuanya produk laku meski masih terbatas pada kenalan kami” lanjut Uni. Ia menambahkan saat pertama para anggotanya menerima pembagian uang hasil penjualan, mereka sangat bergembira, ada kebanggaan dan semangat untuk bekerja lebih baik lagi.

“Selama ini mereka beranggapan yang mendapatkan uang adalah kaum lelaki, nyatanya mereka juga mampu dan hasilnya cukup besar” papar Uni.

Upaya inovasi produk juga terus dilakukan, melalui kreatifitas anggotanya, para perempuan desa Bangga ini telah berhasil membuat pastel kering isi abon rowa. Cemilan ringan ini lebih mudah dipasarkan, karena konsumen langsung menikmati kelezatannya.

Upaya untuk bangkit dari keterpurukan mulai bergeliat, ekonomi rumah tangga dibangun dari rowa kering.

Perkampungan desa Bangga kecamatan Paguyaman Pantai kabupaten Boalemo, Gorontalo. (Foto : Rosyid Azhar)

Uni Dama memperlihatkan proses pengasapan ikan Rowa yang menggunakan kayu Lamtoro, dulunya memakai kayu bakau. (Foto : Rosyid Azhar)

Bahkan proses pembuatannya saat ini sudah mulai bergeser, dari pengasapan rowa yang bahan bakarnya kayu mangrove beralih ke kayu lamtoro. Mereka besepakat untuk melestarikan mangrove, di hutan ini segala hidupan laut bertali-temali, saling terkait. Bila mangrove rusak, ikan pun sulit didapat dan nelayan tidak punya penghasilan.

Para perempuan ini terus berbenah, harapan untuk memperbaiki ekonominya tumbuh, lebih dari itu rasa bangga dan semangat untuk maju juga meningkat. Menyongsong kehidupan uang lebih baik.

Abon rowa asal desa Bangga, cita rasanya sangat khas, tidak ditemukan di tempat lain. (Foto : Rosyid Azhar)

 

Ikan rowa basah siap diasap. (Foto : Rosyid Azhar)

Seorang pekerja menata rowa dalam potongan bambu sebelum di asap. (Foto : Rosyid Azhar)

Ikan terbang (Kapiya) segar baru diturunkan dari perahu, siap menunggu giliran diasap. (Foto : Rosyid Azhar)

Ikan kapiya segar, dijual perikat oleh nelayan. (Foto : Rosyid Azhar)

Ikan rowa, ujung mulutnya panjang, beda dengan ikan terbang (kapiya). (Foto : Rosyid Azhar)

Kapiya menunggu ditata dan diasap. (Foto : Rosyid Azhar)

Kawasan konservasi mangrove yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat Bangga. (Foto : Rosyid Azhar)

Kapiya segar terlihat dari matanya. (Foto : Rosyid Azhar)

Kulit ikan rowa setelah dipisahkan dari dagingnya. (Foto : Rosyid Azhar)

Tumpukan ikan rowa yang baru diturunkan dari perahu nelayan. (Foto : Rosyid Azhar)

Iklan

Tentang GORONTALO HOLIDAY

Warga Gorontalo yang menyukai pertemanan, diskusi dan sedikit fotografi serta tulis-menulis
Pos ini dipublikasikan di Alam, Ekonomi dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s