Di Genggaman Pak Haji Jacob, Bisnis Kopra Dikendalikan

 Usianya boleh lanjut, namun soal bisnis Pak Haji Jacob Tamuu masih penuh semangat. Di rumahnya, Kecamatan Telaga, kabupaten Gorontalo, berton-ton kopra dari berbagai daerah hilir mudik. Setiap minggu transaksi dengan perusahaan besar pengolah kopra dilakukan. Untuk mengendalikan usahanya di tingkat pengumpul yang tersebar di Provinsi Gorontalo, Sulut dan Sulteng serta dengan pabrikan, pak Haji cukup mengandalkan handphone di genggamannya

Pemerintah dan petani harus tetap mewaspadai fluktuasi harga kopra, karena yang menentukan harga komoditas ini adalah keseimbangan pasar internasional. Petani dan pemerintah tidak bisa mengendalikan karena mekanisme dan proses pembentukan harganya sepenuhnya dipengaruhi supply dan demand dunia.

Buah kelapa segar diasap diatas tungku api yang terjaga nyalanya, kegiatan ini merupakan proses pembuatan kopra di kecamatan Tilongkabila, Bone Bolango

“Saya sudah berppuluh tahun melakoni usaha kopra ini, sejak masih muda, sekarang masih tetap juga dan mungkin sampai saya dipanggil Yang Maha Kuasa” tutur Jacob Tamuu, kakek beberapa cucu di rumahnya. Sejak awal pria yang berbahasa santun ini menetapkan kopra sebagai lahan bisnis utamanya. Namun Dalam perjalanan kemudian, usaha hasil bumi lainnya juga dilakukan, namun tidak terlalu fokus. Jacob seperti halnya anggota suku Gorontalo lainnya, selalu bersyukur dalam setiap aktifitasnya.Ia percaya keberhasilan yang diraihnya tidak lepas dari berkat Allah Swt.

“Hasil usaha ini sudah mengantarkan saya pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji” sambungnya. Suka duka berdagang kopra sudah banyak dialami, berbagai godaan dan cobaan mampu dilalui dengan baik. Inilah yang membuat Jacob Tamuu menjadi pedagang yang cukup dikenal baik oleh banyak orang.

Salah satu keberhasilannya adalah membangun jaringan yang kuat di tingkat desa untuk wilayah Provinsi Gorontalo, Sulawesi Utara bagian Barat dan Sulawesi Tengah bagian utara. Jaringan ini yang melakukan komunikasi dengan para petani kopra untuk melakukan transaksi. Dari 3 wilayah inilah kopra kering mengalir setiap harinya ke gudang sebelum dialihkan ke pabrikan.

“Saya harus rajin menanyakan ke orang-orang yang ada di desa untuk mengetahui kapan panen kelapa. Kadang-kadang juga sebaliknya, mereka yang proaktif menghubungi kami” kata Jacob Tamuu. Komunikasi yang intensif ini dilakukan untuk memastikan bisnisnya berjalan lancar.Apalagi diketahui saat ini harga kopra tidak dalam kondisi baik. Ia tidak bisa berbuat banyak menghadapi pembentukan harga karena sepenuhnya dibentuk oleh pasar internasional. Dalam kondisi seperti ini, ia tidak hanya memikirkan nasibnya sendiri. Pekerja dan jaringannya juga harus dipikirkan kelangsungan hidupnya.

Seorang petani memeriksa api pengasapan kopra. Bahan bakar yang digunakan adalah sabut kelapa yang dianggap limbah

Data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo menunjukkan pada bulan-bulan terakhir ini term of trade (nilai tukar petani) perkebunan mengalami fluktuasi, bahkan pada bulan Februari lalu terjadi penurunan indeks sebesar 0,34 persen dari 130,20 menjadi 129.76. Hal ini karena pada indeks yang diterima petani 0,10 persen lebih lambat daripada indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,44 persen.

Komoditas yang mengalami penurunan harga adalah kelapa belum dikupas, harga yang ini dibentuk oleh mekanisme pasar lokal. Karena tidak bisa dikendalikan, harga kopra sering mengaget petani karena perubahannya terjadi setiap harinya, bahkan dalam sehari bisa berubah hingga 3 kali.

Ketidakpastian harga ini tidak jarang membuat pedagang pengumpul juga terpukul, harga pengambilan di tingkat petani tiba-tiba lebih mahal dari harga saat disetor ke pabrikan. Harga kopra saat ini mencapai Rp5.500 per kg, harga ini lebih tinggi Rp500 per kg-nya dari sepekan sebelumnya.

Harga kopra dalam 5 tahun terakhir mengalami fluktuasi yang belum menguntungkan petani sepenuhnya. Bahkan harga kopra kering pernah sampai Rpp3.000 per kg yang menyebabkan banyak petani menelantarkan tanaman kelapanya dari pada memetik buahnya. Mereka rugi akibat biaya proses produksinya yang tidak mampu ditutupinya.

“Kalau harganya terus menurun, kasihan petaninya” jelas Jacob. Kopra merupakan tanaman tradisional yang sejak dulu secara turun-temurun dibudidayakan oleh masyarakat pedesaan di berbagai kabupaten di provinsi Gorontalo, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.

Menurut Jacob Tamuu, ia memasok kopra kering ke pabrikan seharga Rp5.700-5.900 per kg, harga tersebut merupakan harga bersih di gudang penyimpanan pabrik, sehingga ongkos transportasi dan lainnya harus ia tanggung. Dalam setiap pengirimannya ia membawa 8-9 ton kopra kering ke pabrik, “rata-rata per minggunya saya mengirim 3 kali ke perusahaan” jelas Jacob.

Untuk menjaga ritme pasokan kopra ini, Jacob ia harus mengatur pengambilannya ke petani, terutama di Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo yang menjadi pemasok utama kopra. Peranan telepon genngam sangat vital baginya, melalui genggamannya ia melakukan komunikasi ke seluruh jaringan yang terdapat di 3 provinsi.

“Telkomsel sangat membantu melakukan aktifitas saya sebagai pedagang kopra. Saya bisa pakai SMS, kalau ada yang lebih penting langsung telepon” aku Jacob Tamuu. Selain keperluan bisnis, ia juga melakukan komunikasi dengan keluarganya. Baginya bukan tanpa alasan menggunakan jasa layanan Telkomsel, sebab hanya layanan dan jaringan Telkomsel yang mampu hadir di pelosok-pelosok pedesaan.

Hingga kini belum ada operator lain yang mampu menyaingi Telkomsel untuk melayani masyarakat di desa-desa. “Telkomsel sangat membantu, kalau dihitung-hitung menggunakan Telkomsel jauh lebih murah, mudah dan cepat. Tidak ada yang mampu menyamainya hingga kini” puji Jacob.

Seperti daerah yang sedang bekembang lainnya, di provinsi ini pemanfaatan tanaman kelapa masih sangat tradisional. Petani hanya mengambil buahnya untuk kopra dan dijual ke pabrikan. Padahal selain kopra, produk ikutan tanaman kelapa ini bisa berupa arang tempurung dan asap cair.

Kedua produk ini merupakan komoditas ekspor yang memiliki nilai tinggi, bahkan asap cair ukuranya penjualannya menggunakan takaran mililiter. Pemerintah provinsi Gorontalo pernah mengenalkan alat produksi asap cair dan arang tempurung. Demo proses pembuatan produk ini disaksikan banyak petani dari dari seluruh kabupaten, namun tidak jelas pengembangannya kemudian.

Sabut kelapa masih dianggap limbah oleh petani kopra, penggunaannya masih sebatas untuk pengasapan kopra. Ini merupakan tantangan petani di masa depan untuk memanfaata lebih bernilai ekonomi

Diduga harga alat yang mencapai Rp70 juta tidak mampu dibeli petani selain mereka tidak familiar dengan produk ini. Sementara produk lainnya, cocofit bahkan pernah berjaya dengan kehadirannya Perusahaan Modal Asing (PMA) Tulus Lanka. Perusahaan ini memproduksi kulit kelapa (gonofu) menjadi produk ekspor yang banyak diminati Jepang dan negara lainnya. Namun sayang perusahaan ini menutup produksinya akibat ekonomi biaya tinggi yang ditanggungnya serta faktor lainnya.

Di tengah persaingan bisnis yang cukup tajam, seorang Jacob Tamuu mampu bertahan dengan dukungan jaringan yang luas serta memanfaatkan layanan Telkomsel.

(Rosyid Azhar – Gorontalo)

Iklan

Tentang GORONTALO HOLIDAY

Warga Gorontalo yang menyukai pertemanan, diskusi dan sedikit fotografi serta tulis-menulis
Pos ini dipublikasikan di Ekonomi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s