Mencari Tumbuhan Pemakan Hewan di TNBNW

Lazimnya binatang memakan tumbuhan. Namun dalam ekspedisi mahasiswa pecinta alam Areca Vestiaria, Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado, mereka mendapati Kantong Semar (Nepenthes), tanaman langka yang sedang melahap seekor katak, di sekitar pegunungan Perantanaan, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone bagian Provinsi Gorontalo.

——————————

Ekspedisi Nepenthes (tumbuhan kantong semar) ini tercatat sebagai new record, membuahkan catatan baru bagi ilmu pengetahuan karena informasi yang berkaitan dengan kantong semar di daerah ini sebelumnya tidak ada. Ini adalah sumbangan berarti anak muda bagi ilmu pengeetahuan dan menjadi catatan yang baik mengenai kiprah mereka.

Seekor katak hutan diam tak bergerak setelah kelelahan meronta keluar dari tumbuhan kantong semar. Hewan ini akhirnya mati dimakan tumbuhan langka. (foto Mapala Areca Vestiaria)

Dengan ekspedisi ini catatan habitat Nepenthes Gorontalo mulai terkuak perlahan setelah 7 mahasiswa Fakultas Pertanian melakukan perjalanan ilmiah selama 7 hari menembus rerimbunan rimba taman nasional.

Ekspedisi ini dimulai pada 22 September 2011 lalu dengan menyusuri jalur tradisional yang biasa digunakan oleh masyarakat Pinogu ke Suwawa. Mereka memulai jalan kaki dari desa Tulabolo, desa terakhir sebelum memasuki taman nasional. Jarak Tulabolo – Pinogu apabila ditarik garis lurus berjarak 28 km mereka tempuh selama 11 jam, padahal jalur ini berkelok, juga turun naik.

Kicauan sekumpulan burung jalak tunggir merah yang bisa berjumlah ratusan ekor menyambut kedatangan mereka, demikian juga rangkong yang mengangkasa dengan teriakannya yang bisa membangunkan siapa saja.

Saat memasuki Hungayono, daerah yang memiliki sumber panas bumi seluas 6 ha, sepasang burung Maleo (Macrochepalon Maleo) melintas sekelebatan. Burung endemik Sulawesi ini masih bisa disaksikan dengan mudah di daerah ini.

“Kami juga sempat disambut sekelompok Macaca nigrescens, monyet endemik Sulawesi yang belum banyak referensi ilmiahnya bila dibandingkan Macaca Nigra. Keduanya tanpa ekor” kata Alvons Patandung.

Buah kolang-kaling yang masih muda menguning di tengah rimba Taman Nasional Nogani Nani Wartabone. Tanaman ini banyak dijumpai dan merupakan tumbuhan yang banyak menyimpan air di dalam tanah

Setelah melaporkan diri kepada Kepala Desa Pinogu, mereka melakukan diskusi dengan masyarakat setempat seputar perjumpaannya dengan tumbuhan kantong semar, sebagian anggota melakukan survey sosial dan mengumpulkan data desa. Kegiatan ini dilakukan selama 3 hari sambil menyesuaikan diri dengan kondisi iklim setempat.

Dari interaksi sosial dengan banyak warga, mereka menyimpulkan masyarakat Pinogu kurang mengenal tumbuhan kantong semar meskipun ditunjukkan contoh gambarnya. Hanya generasi tua yang mengenal, itupun sudah lama tidak dijumpai. Ini menyiratkan tumbuhan ini ada namun dalam habitat yang terbatas.

“Kami dapatkan biaya ojek dari Tulabolo ke Pinogu sekarang sudah naik menjadi Rp600.000 sekali jalan, padahal sebelumnya masih Rp200.000. Kenaikan ini akibat maraknya aktifitas tambang di taman nasional. Para pengojek menyesuaikan tarif dengan daya beli para penambang” jelas Alvons, project manager ekspedisi ini.

Hari keempat jam 07.00 pagi, embun masih menghiasi Pinogu, mereka berangkat ke arah pegunungan Gambuta. Mereka menyusuri sungai Olama. Sungai ini jernih dengan bebatuan di sepanjang badannya. Arah mereka ke utara.

Salah satu daun dari jenis tumbuhan palma yang endemik Sulawesi. Habitat tumbuhan ini masih relatif baik di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Mereka beruntung, tidak ada hujan lebat, bearrti sungai bening dan air tidak meluap. Di sungai ini dengan mata telanjang bisa disaksikan aneka ikan yang berenang di antara batuan gunung. Ini berarti kehidupan di sini masih alami, habitat masih terjaga. Selain ikan, udang banyak dijumpai, demikian juga katak.

Untuk bermalam, mereka membuat tenda sederhana dari perlengkapan yang dibawanya, tidak jauh dari sungai. Setiap jam 16.00 Wita mereka menyudahi perjalanan. Tidak seperti di kota, di tengah hutan gelap datang lebih cepat. Nyanyian serangga dan satwa nokturnal lainnya mulai bergilir, hutan yang sunyi demikian riuh di waktu malam.

Sepanjang jalan mereka memasang mata dengan awas, memperhatikan flora, mencari-cari si kantong semar yang tersamar, baik yang terrestrial (tumbuh di tanah) maupun yang epifit (menempel di pohon inang) dalam rerimbunan hutan perawan..

Setelah berjalan 2 hari menyusuri sungai Olama sejak kedatangan di Punogu,  mereka mendapatkan kantong semar. Tumbuhan ini menempel di pohon sirsak (Anonaceae). Temuan ini membuncahkan rasa bangga anggota ekspedisi ini. Rasa lapar dan dahaga terbayar dengan perjumpaan tanaman langka ini.

Daun paku-pakuan menjulang di antara rimbunan pohon besar. Jenis tanaman ini tumbuh dengan mengandalkan kelembaban meskipun sinar matahari susah menembus lantai hutan

Saat menumukan percabangan sungai Olama di hulunya, yang sebelah kiri adalah sungai Batata dan sebelah kanan sungai tidak bernama, perjalanan mereka teruskan diantara dua sungai ini. Kontur tanah yang terus menaik memberi arah ke arah puncak gunung Gambuta. Lebatnya rimba Gorontalo menyimpan keanekaragaman hayati yang berlimpah, sebagian besar terancam punah.

Dari temuan ini kemudian berturut-turut dijumpai tanaman serupa di pohon yang berbeda. Semua kantong semar berjenis ephifit, hidup menempel pada tanaman lainnya.

Salah satu kantong semar yang ditemukan bahkan sedang melahap seekor katak hutan. Hewan vertebrata ini pasrah berada di kantong semar sambil menunggu ajal dan dicerna oleh cat cairan yang ada di dalamnya.

Kantong semar memiliki cairan di dalamnya yang menarik hewan untuk datang, mereka tertarik dengan aromanya. Hewan yang mencoba menemukan zat tersebut akan terperosok ke dalam kantong, umumnya serangga kecil, atau jangkrik. Setelah berada di dalam cairan kantong semar, hewan akan terperangkap, tidak bisa keluar dan akhirnya mati. Secara perlahan cairan ini akan membusukkan hewan. Bangkai hewan ini perlahan-lahan diserap tumbuhan ini. Sungguh menakjubkan, sebuah tumbuhan memakan hewan. Tidak heran jika kantong semar dijuluki tumbuhan pemangsa.

Buah tumbuhan jenis ficus (keluarga beringin) yang disukai Macaca (monyet Sulawesi) menyediakan nutrisi bagi banyak kawanan primata endemik pulau ini

Ekspedisi yang dilakukan mahasiswa Pertanian Universitas Sam Ratulangi ini sangat membantu dalam memahami salah satu bagian kekayaan Indonesia. Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang masuk dalam 2 provinsi, di bagian timur masuk wilayah Sulawesi Utara dan barat masuk Gorontalo, tidak banyak diketahui masyarakat. Ekspedisi ini telah menguak sedikit tentang misteri di dalamnya dan menjadi sumbangan yang berarti bagi dunia pendidikan di Indonesia bahkan dunia.

Hasil kerja bareng ini juga diharapkan mampu menjadi motivasi bagi ekspedisi yang lain, untuk lebih membuka dunia ilmu pengetahuan.

(Rosyid Azhar – Gorontalo)

Iklan

Tentang GORONTALO HOLIDAY

Warga Gorontalo yang menyukai pertemanan, diskusi dan sedikit fotografi serta tulis-menulis
Pos ini dipublikasikan di Alam dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mencari Tumbuhan Pemakan Hewan di TNBNW

  1. tommy berkata:

    artikel yang manarik mas rosyid..i like it 🙂

  2. Fatriyanto Mooduto berkata:

    menarik jadi kepingin menjelajahi taman national bogani nani wartabone…salam mas Rosyid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s