Hutan Nantu Kekayaan Dunia di Gorontalo (2) : Babi Rusa Gorontalo Dikenal Eropa Sejak 1650

Ternyata para peneliti Eropa sudah mengenal Babi Rusa (Babyroussa babbyrussa) sejak abad 17. Pada tahun 1658 seorang warga Belanda bernama Piso dalam bahasa Latin membuat ilustrasi tubuh babi rusa dengan hanya bermodalkan potongan tengkorak yang ditemukan. Meski ilustrasi tersebut jauh dari tubuh Babi rusa sesungguhnya, namun sepotong tengkorak tersebut telah menjadi pembuka studi babi rusa di Eropa.

Alfred Russel Wallace, sang ilmuwan pengelana bergembira saat kapalnya merapat di Sulawesi. Informasi yang didapat tentang banyaknya satwa dan tumbuhan di pulau ini menggugahnya untuk menyaksikan langsung keberadaannya. Untuk pertama kali ia melihat babi rusa di hutan Likupang Minahasa pada tahun 1860. Ia mampu mendekomentasikan visual hewan endemik Sulawesi ini, gambaran Piso tentang hewan ini kemudian disempurnakan setelah 200 tahun.

Gambaran Babi Rusa oleh Piso pada tahun 1658. (Repro : Rosyid A Azhar)

Piso menggambarkan babi rusa sebagai hewan yang memiliki taring melengkung di depan matanya, tubuhnya langsing seukuran  anjing kampung besar atau seekor rusa, bulunya seperti anjing pemburu yang berwarna keabu-abuan, hewan ini memiliki mulut dan kepala seperti babi pada umumnya dengan mata dan telinga mungil. Kuku dan kakinya mirip rusa, dengan ekor yang bergelung melingkar seperti spiral. Babi rusa ini digambarkan sebagai hewan liar yang berasal dari zaman purba.

Rekaan tubuh yang berbekal sebuah tengkorak Babi rusa Piso ini menggelitik Lynn Marion Clayton, Doktor Eko-Biologi Babi rusa dari Oxford University, Inggris. Wanita ramah yang menghabiskan waktu 21 tahun di hutan Nantu, kawsaan gunung Boliyohuto ini mengtakan ekor Babi rusa tidak melingkar seperti spiral, melainkan lurus.

“Buku Babi rusa karya Piso merupakan rujukan tertua yang pernah ditemukan di Eropa. Buku ini ada di Leiden dan terkenal  di Belanda dan juga Eropa” paparnya saat mendiskusikan satwa langka di campnya yang berada di pinggiran sungai, di pedalaman hutan Nantu.

Babi Rusa menikmati mineral di kolam Adudu, Suaka Marga Satwa Nantu, Gorontalo. (Foto : Rosyid A Azhar)

Hewan langka ini sejak dulu sudah menjadi daya tarik bagi peneliti dan ilmuwan Eropa, keunikan bentuk tubuhnya merupakan hal yang menarik. Sama seperti Anoa, Babi rusa merupakan satwa endemik yang tinggal di Sulawesi, daerah peralihan antara pengaruhi Asia dan Australia.

Studi yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia tentang satwa ini relatif sedikit, justru yang paling banyak berasal dari hasil kerja bertahun-tahun Dr Lynn Clayton, dan banyak ilmuwan negeri ini yang merujuk hasil penelitiannya.

Pembantaian besar-besaran telah menyusutkan jumlah Babi rusa. Umumnya para pemburu memasang jerat di daerah yang biasa dilaluinya atau di pinggiran kolam Adudu. Sebelum ada pengawasan, setiap minggunya tidak kurang dari 20 ekor Babi rusa dibunuh di hutan Nantu, bangkainya dikirim ke Minahasa dan Manado untuk diperdagangkan. Seekornya hanya dihargai Rp150.000 di tangan pemburu, jumlah yang tidak seberapa dibandingkan nilai ilmiahnya.

Tidak seperti babi hutan atau jenis lainnya, Babi rusa hanya beranak 1 sampai 2 ekor setiap melahirkan, tidak lebih. Sehingga perkembangannya sangat lambat. Perburuan liar telah menyurutkan populasinya di kawasan hutan Nantu.

Bangau putih di pinggiran sungai Paguyaman. (Foto : Rosyid A Azhar)

Saat menyusuri hutan menuju Adudu, banyak jejak binatang ditemukan di tanah yang lembab dan basah. Jemmy Kumolontang, staf Lynn Clayton yang mantan pemburu menjelaskan, jejak kaki babi rusa lebih membulat sementara babi hutan cenderung persegi.

Satwa ini tidak memiliki tempat tinggal (sarang) yang menetap, mereka berkeliaran di sepanjang hutan yang tidak jauh dari Adudu dan jika malam tiba memilih untuk tidur di sela-sela akar bawah pohon besar.

Uniknya, satwa khas Sulawesi ini memiliki “kamar mandi” yang berbentuk kubangan berisi air. Di kolam seukuran tubuhnya ini Babi rusa mencampur air kencingnya dengan air dan menikmati kesesegarannya. Kebiasaannya setelah mandi, Babi huta akan menggosokkan tubuhnya yang penuh lumpur di pepohonan sebagai penanda wilayah jelajahnya. Hanya orang yang biasa mengamati hidup Babi rusa yang bisa melihat bekas gosokan tubuh hewan ini di batang pohon.

Hutan Nantu kaya flora. (Foto : Rosyid A Azhar)

Di hutan Nantu yang menyimpan kekayaan alam tiada tara ini juga bisa saksikan bekas-bekas Babi rusa melahirkan. Betina yang akan melahirkan akan mengumpulkan potongan daun untuk dijadikan alas. Berbagai macam daun perdu dan semak, bahkan daun woka dipotong untuk dijadikan kasur. Di atas alas empuk ini bayi mungil Babi rusa lahir.

“Babi rusa sangat peka, mereka tidak bisa hidup di daerah yang telah terbuka. Ini bedanya dengan babi hutan. Babi rusa hanya bisa tinggal di hutan yang masih terjaga keasliannya. Beruntunglah Gorontalo memiliki hutan Nantu yang masih menyimpan kekayaan hutan huja n tropis terlengkap di Sulawesi. Masyarakat harus menjaganya” tuturnya saat menyusuri sungai Adudu untuk mengenalkan keindahan alam Gorontalo.

(Rosyid Azhar – Gorontalo)

Iklan

Tentang GORONTALO HOLIDAY

Warga Gorontalo yang menyukai pertemanan, diskusi dan sedikit fotografi serta tulis-menulis
Pos ini dipublikasikan di Alam dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Hutan Nantu Kekayaan Dunia di Gorontalo (2) : Babi Rusa Gorontalo Dikenal Eropa Sejak 1650

  1. EKKy Zakaria berkata:

    I LOVE GORONTALO

  2. EKKy Zakaria berkata:

    mohon perburuan liarnya dihentikan, agar fauna diGorontalo akan tetap terjaga untuk dinikmati oleh anak cucu kita. . . .(y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s