Bakdo Ketupat, Tradisi Silaturahim Masyarakat Jawa Tondano

Bakdo Ketupat atau Hari Raya Ketupat identik dengan budaya masyarakat Jawa Tondano, anak temurun Kiyai Mojo dan pengikutnya yang menikahi gadis Minahasa pasca berakhirnya Perang Jawa, 1830-an di tempat pengasingannya. Tradisi ini secara filosofi mengandung arti memperkuat silaturahim, seperti halnya anyaman ketupat yang terbuat dari janur. Seperti itulah pesan yang disampaikan masyarakat  Jawa Tondano di Gorontalo.

Seorang remaja menggantikan ibunya mengaduk jenang di bagian belakang rumahnya di desa Reksonegoro. Jenang dan ketupat merupakan makanan khas saat Bakdo Ketupat. (Foto Rosyid Azhar)

Sejak sepekan terakhir masyarakat Jawa Tondano di desa Reksonegoro, Kabupaten Gorontalo menyiapkan diri menghadapi perayaan ketupat, sebuah tradisi lama yang digelar 7 hari seusai Idul Fitri. Masing-masing keluarga sibuk membuat jenang dan makanan lain yang dikerjakan secara berkelompok dengan anggota keluarga di bagian belakang rumah.

Tepung beras ketan (pulo) dijer dengan santan dan gula dan dimasak berjam-jam dari pagi hingga sore di atas wajan besar, kayu api menyala menguapkan air dalam wajan, dan selama itu pula kaum perempuan tidak pernah berhenti mengaduk. Semakin lama adukan semakin berat karena kadar air yang semakin menurun, adonan jenang panas semakin mengental.

Selain Jenang, makanan khas saat pelaksanaan tradisi ini adalah ketupat. Kedua jenis makanan ini merupakan pembawaan para leluhur mereka dari tanah Jawa, namun dalam perkembangannya beberapa makanan lokal diadopsi untuk disajikan seperti nasi jaha (nasi bulu).

Dua orang wanita mencampur tepung ketan, air, kelapa dan gula sebelum dimasak menjadi jenang dalam wajan besar. (Foto Rosyid Azhar)

Seusai hari Raya Idul Fitri, masyarakat Jawa Tondano biasanya masih melaksanakan puasa Syawal yang dimulai pada tanggal 2 Syawal dan diakhiri dengan tradisi ketupatan, tidak heran jika banyak masyarakat yang menyebut tradisi ini dengan sebutan hari raya Ketupat. Puasa Syawal ini juga merupakan kebiasaan yang diturunkan oleh Kiyai Mojo dan pengikutnya kepada anak-anaknya di tanah Minahasa, dan diteruskan hingga daerah lain.

Tradisi masyarakat Jawa Tondano yang sarat dengan nilai-nilai keislaman ini tidak lepas dari peran Kiyai Mojo yang bernama asli Kyai Muslim Muhammad Halifah, seorang ulama besar yang menentang penjajahan Belanda bersama Pangeran Diponegoro.

Diperlukan tenaga ekstra untuk mengaduk jenang. Pembuatannya memerlukan waktu yang lama. (Foto Rosyid Azhar)

Seperti yang dituturkan Ali Sataruno (59 tahun), generasi ketiga pendiri desa Reksonegoro, mereka meneruskan kebiasaan dari para mbah (kakek nenek), yang dipercaya menjadi perekat silaturahim antara masyarakat Jawa Tondano dan juga dengan semua masyarakat di Gorontalo.

“Silakan datang, kami akan menyambut dengan gembira” kata  Ali Sataruno.

Seekor ayam dalam kurungan yang akan disembelih untuk menyambut Bakdo Ketupat. (Foto Rosyid Azhar)

Bagi masyarakat Jawa Tondano, dalam perayaan Bakdo Ketupat, mereka berkumpul dan bertemu untuk saling bersilaturahim. Ini tidak lepas dari sejarah awal tradisi di Tondano. Pengikut Kiyai Mojo yang sudah menikah dengan gadis tou Minahasa keturunan Dotu Rumbayan, Tombokan, Tumbelaka, dan lain-lain bertemu dalam perayaan pasca Idul Fitri untuk membina kerukunan dengan keluarga besar mereka.

Bakdo Ketupat awal ini mempertemukan Kiyai Mojo, pengikutnya, para Walak dan masyarakat Minahasa serta generasi baru hasil pernikahan pengikut Kiyai Mojo dan gadis Minahasa.

Masyarakat Jawa Tondano dikenal ramah dalam menyambut tamu. Mereka tidak segan menghidangkan makanan terbaik untuk tetamu yang datang di rumah mereka. (Foto : Rosyid Azhar)

Semua tetamu yang datang pada Bakdo Ketupat akan disambut ramah dan hangat, sekalipun belum dikenal. Mereka akan dijamu dengan hidangan khas.

“Bahkan kalau ada makanan yang lebih kami mempersilakan membawanya sebagai oleh-oleh” tutur Ali Sataruno yang diamini oleh Muhammad Pulukadang.

Sikap terbuka masyarakat Jawa Tondano ini merupakan bentuk proaktif komunikasi sosial yang baik, menautkan dan menciptakan interaksi individu dan kelompok kecil masyarakat, yang dilakukan secara massal. Hasilnya bukan saja kemeriahan dan kegembiraan, namun juga ikatan sosial dan batin yang lebih kuat.

Kaum wanita sibuk menyiapkan hidangan di belakang rumah untuk menjamu tamu yang datang. (Foto : Rosyid Azhar)

Menurut Muhammad Kiyai Wonopatih, imam masjid Al-Maghfirah, Reksonegoro, Bakdo Ketupat merupakan warisan leluhur dari Jawa yang diwariskan oleh Sunan Bonang yang memiliki makna lebar yang berarti dilaksanakan sesudah menjalankan ibadah puasa Ramadhan, lebur yaitu melebur dosa dengan saling memaafkan atas segala salah dan khilaf, leber yang bermakna mempertegas komitmen diri menyatu dengan masyarakat, dan luber yang berarti memperkaya ikatan sosial untuk memajukan daerah.

Bakdo Ketupat merupakan bentuk ukhuwah islamiyah, wathoniyah, bashariyah/insaniyah.  Anyaman ketupat yang terbuat dari janur memiliki makna semangat untuk selalu menyegarkan rangkaian persaudaraan (silaturahim).

Serundeng, makanan asli Jawa yang tetap dipertahankan oleh kaum wanita Jawa Tondano. (Foto : Rosyid Azhar)

Di Gorontalo, masyarakat Jawa Tondano sudah ada sejak tahun 1900 dengan diawali didirikannya desa Yosonegoro. Setelah itu disusul kedatangan rombongan lainnya secara bergelombang dari Tondano di desa Kaliyoso tahun 1905, dan di Reksonegoro tahun 1915. Permukiman masyarakat Jawa Tondano di desa lain di Gorontalo seperti Mulyonegoro dan Bandung Rejo merupakan pengembangan dari masyarakat yang sudah ada di Gorontalo sebelumnya.

Pembukaan desa Reksonegoro dipimpin oleh Nawas Mojo bersama 40 orang lainnya. Mereka datang dari Tondano menumpang kapal Belanda dan turun di Kwandang. Perjalanan kaki dilakukan dari Kwandang, sebagian besar dari mereka menginap di Yosonegoro dan beberapa orang melanjutkan perjalanan untuk mencari lokasi untuk dijadikan kampung baru, setiap menyinggahi lokasi mereka mencicipi tanah untuk dikenali rasanya. Ada tanah yang terasa asin yang diyakini kurang bagus untuk perjalanan kehidupan anak turun mereka, ada juga yang terasa manis seperti di Tolotio (kawasan bandara Jalaluddin sekarang) yang dianggap akan melenakan.

Jenang, makanan khas saat Bakdo Ketupat. (Foto :: Rosyid Azhar)

Setelah mendapati tanah yang beraneka ragam rasa yang bermakna banyak hal yang akan menempa perjalanan kehidupan masyarakat Jawa Tondano, mereka mendirikan kampung yang dinamakan Reksonegoro. Selamat merayakan Bakdo Ketupat, semoga silaturahim semakin bermakna. (*)

Iklan

Tentang GORONTALO HOLIDAY

Warga Gorontalo yang menyukai pertemanan, diskusi dan sedikit fotografi serta tulis-menulis
Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bakdo Ketupat, Tradisi Silaturahim Masyarakat Jawa Tondano

  1. Ping balik: Bakdo Ketupat, Tradisi Silaturahim Masyarakat Jawa Tondano | Gorontalo Holiday

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s