Meliput Hujan dan Banjir : Tegang dan Asyik!

Meliput banjir dan hujan badai? Wow, sangat mengasyikkan! Ini benar-benar pengalaman jurnalistik yang menegangkan dan sekaligus menyenangkan. Hujan dan kemudian banjir memang membawa malapetaka bagi banyak orang, ini sangat menyedihkan, dan berulang kali mendera sebagian masyarakat Gorontalo.

Untuk mendapatkan foto ini, saya harus terjun langsung ke lokasi banjir di kelurahan Bugis, Kota Timur, Kota Gorontalo dengan membawa peralatan kamera yang memadai, risiko selalu menghantui.

Seperti halnya wartawan lainnya, saya juga tahu daerah mana yang paling parah dilanda banjir jika hujan lebat, termasuk lorong atau jalan mana yang harus dikunjungi untuk mendapatkan foto-foto menarik, tentunya foto yang menyedihkan, juga foto yang lucu. Selain itu pada saat terjadi musibah banjir, saya juga saksikan betapa gagapnya pemerintah menangani bencana seperti ini.

Banjir besar yang pernah saya alami selama saya tinggal di Gorontalo adalah pada 26 Juni 2006, saat kuala Bone meluap dan menumpahkan air bah yang besar di sepanjang bantaran sungai di kecamatan Kota Timur. Di pasar Bugis, arus air bahkan menerjang apa yang menghalanginya, sangat deras, semua terseret dan hilang entah ke mana.

Saat itu, saya merasa senang bisa bertugas langsung di lokasi banjir yang paling parah, saya meliput langsung dari lokasi, saat pertama saya sempat motret banjir mulai memasuki rumah warga di Puncur, Kelurahan Bugis, Kota Timur, sore menjelang maghrib. Warga mulai mengangkati barang-barangnya ke tempat yang lebih tinggi. Kesibukan ini terutama dilakukan oleh kaum wanita, mereka membongkar lemari, menaruh baju dalam sprei dan mengikatnya untuk dinaikkan di atas lemari, sebagian yang lain sibuk mengangkati wajan, belanga, kompor dan perlengkapan makan ke tempat yang aman, beberapa jerigen tempat minyak tanah sudah lebih dulu hanyut bersama plastik sampah di samping dapur.

Banjir sore itu belum membuat warga lainnya cemas, meski kuala Bone seperti lintasan balap, arus air keruh melaju membawa pepohonan tanpa bisa dihentikan. Amarah Alam sulit dihentikan.

Besoknya, gerimis tipis mengguyur kota Gorontalo, namun air sudah ada di mana-mana,  masjid Al-Jauhar separuhnya ada di dalam air, kuburan di dekatnya tidak tampak lagi. Padahal lokasi ini paling tinggi di kelurahan Bugis.

Seorang anak tetap pergi ke sekolah meski air bah menggenang di ruang kelasnya. Ia satu-satunya siswa yang datang, tidak lama kemudian gurunya menyuruh pulang.

Denga membawa semua perlengkapan kamera yang saya punya, saya masuki daerah-daerah paling parah dengan berjalan kaki, celana dan sebagian baju basah. Untung tas ransel berisi kamera tetap kering di pundak. Saya dapatkan foto-foto mengenaskan, masyarakat korban banjir harus berjuang sendiri untuk mengatasi kesulitan. Belum ada bantuan pemerintah, perahu karet tidak dijumpai. Saya melihat ada beberapa perahu kayu, saya kenal betul perahu ini, biasa dipakai nelayan danau untuk mengangkut pakan ikan nila yang dipelihara di tengah danau. Perahu ini memiliki badan panjang tapi ramping, sementara di daerah ini banyak sekali lorong dan jalan sempit.  Saya membayangkan, pasti tidak bisa digunakan untuk bermanuver menolong korban banjir diatas arus bah yang kuat, di sini saya abadikan perahu itu yang sejak didatangkan tidak pernah dipakai. Ironi memang, tapi itulah yang bisa dilakukan pemerintah kita saat itu. Siangnya perahu karet saya saksikan sudah melakukan evakuasi, meski beberapa diantaranya tidak ada mesin tempelnya, mungkin baru dibuka dari dos.

Meski segala sesuatu sudah saya siap dengan matang, peliputan banjir ini juga menjadikan saya korban, saya  baru ingat ternyata telepon seluler yang saya kantongi berada di celana dan ketinggian banjir sudah sepinggang tingginya.

Dalam peliputan, saya sudah tidak meghiraukan hujan yang turun, Nikon D70 yang menamani saya saat itu sudah basah kuyup. Orientasi saya Cuma satu, bencana banjir ini sangat besar, saya harus mampu mengabadikan momen penting, belum tahu apakah hal serupa akan datang 5 tahun lagi atau bahkan lebih. Pikiran saya cuma satu : focus pada karya jurnalistik.

Untuk mengatasi kamera yang basah, saya selalu mengelapnya dengan handuk kecil. Alhamdulillah, kamera ini lumayan bandel untuk liputan yang ekstrim ini.

Ada satu hal yang menjadi renungan saya saat itu tentang bencana ini, terlepas soal takdir Tuhan, ini merupakan peringatan bagi manusia, perubahan iklam secara global akan berdampak pada semua manusia dalam skala kecil dan di mana pun berada.

Derasnya arus sungai telah memberikan saya dan Andry Anthony (koresponden Metro TV) kesempatan untuk mengabadikan momen mendebarkan saat-saat dinding rumah warga Talumolo berjatuhan ke sungai akibat gerusan air. Tidak hanya satu rumah, berguguran ke bawah dan langsung disapu arus kea rah muara. Rekaman video Andry ini menjadi Top Pictures dalam pemberitaan di televisi ini.

Penderitaan warga, terekam dengan baik, mulai dari kesulitan mencari makanan siap saji, tempat tidur, obat-obatan, kerugian harta benda hingga kebingunan mencari tempat ternak mereka. Banyak warga yang hanya makan mie instan tanpa nasi.

Bahkan pasca banjirpun masyarakat harus lebih kerja ekstra untuk membersihkan lumpur dan sampah dari mereka. Pasca banjir juga  rawan penyakit karena berseraknya sampah dan kotoran, di sisi lain kondisi fisik dan psikis warga sudah menurun.

Banjir tahun pertengahan 2006 lalu memang besar, bahkan lapangan Taruna Remaja juga terendam, padahal di lokasi ini Dinas Sosial sudah mendirikan tenda pengungsian. Walhasil lokasi ini tidak bisa dimanfaatkan.

Hal serupa juga terjadi di Balai Kartini, banyak orang yang sudah nyaman mengungsi di sini, namun ketenangan mereka terusik setelah air banjir terus meninggi dan mulai masuk di gedung tua ini.

Hal lain yang menarik dari liputan “basah” ini adalah risiko terkena penyakit atau digigit binatang.

Korban banjir bukan hanya manusia, hewan juga susah saat banjir, termasuk kaki seribu dan berbagai hewan lainnya. Mereka terseret arus dan mencari “pegangan dan kehangatan” agar tidak mati konyol. Pada saat itu, saya adalah “penolong” bagi para binatang itu. Sering usai terendam saya saksikan di saku rompi atau di bagian baju lainnya ada macam-macam binatang.

Kejadian lucu juga saya pernah alami. Selama berada di air, saya banyak jalan untuk mendapatkan foto yang menarik. Pemandangan lusuh acap saya ambil di bagian belakang rumah untuk mengabadikan betapa joroknya banjir itu. Di bagian ini terdapat dapur, tempat cuci, comberan, tempat sampah, septictank, kamar mandi/WC, bahkan kandang ternak. Di lokasi ini sering muncul hewan-hewan aneh, mulai dari kelapang, kepik, semut, cacing, bahkan ular.

Jembatan Molintogupo di Kabupaten Bone Bolango patah saat banjir bandang melanda Gorontalo.

Masih di lokasi banjir, saya merasakan ada yang bergerak di selangkangan saya. Saya mulai ketakutan. Saya memang penakut jika ada serangga yang masuk dalam baju. Saya mulai panik. Saya tidak mungkin melepas celana di tengah banjir sekalipun, apalagi banyak orang yang akan menyaksikan. Saya putuskan untuk mencari tempat yang saya kenal pemiliknya dan tidak banjir.  Saya pilih kamar mandi, gerakan aneh di selangkangan semakin terasa, saya lucuti baju, juga celana dalam. Saya guyur dengan air sebanyaknya. Apapun yang ada ditubuh saya segeralah enyahlah, harap saya. Sabun anti septik segera digosok, matilah para pembuat onar di selangkanganku.

“Untunglah tidak ada hewan yang menggigit bagian-bagian di selangkangan” gumamku dalam akmar mandi.

Tidak jarang saya merasakan sakit pada bagian tubuh saya akibat gigit hewan, saya tidak tahu berapa banyak dan siapa yang menggigit, bahkan ada yang “menitipkan” racunnya, bengkak adalah hal biasa.

Bahaya yang mengancam lainnya adalah terseret arus air bah, saya pernah nyaris celaka saat meliput banjir akibat luapan kuala Bone. Untungnya saya masih bisa berpegangan pada seutas tali yang terpasang sambung di tiang listrik.

Banjir yang meninggi selalu menutupi permukaan tanah, sehingga sulit membedakan mana jalan atau kuala, apalagi keduanya bersebelahan. Kejadian tragis saya alami di Limba, kota Gorontalo. Saya tidak hafal daerah ini, jalannya berkelok demikian juga kuala yang ada di pinggirnya. Saya tiba-tiba terperosok dalam kuala saat melewati jalan tersebut. Kamera di tangan saya angkat tinggi-tinggi, sementara ransel berisi kamera lain sempat masuk air. Untungnya tas kamera yang banyak busa untuk menahan benturan ini menjadi penyelamat, tas ini berfungsi menjadi pelampung. Saya selamat dan kamera sempat basah, untungnya kamera tidak seberapa parah setelah saya keringkan.

Banji hujan yang berkepanjangan juga membuat banyak hal menjadi tidak baik, bahkan bisa membunuh mahluk hidup, sekalipun masih dalam bentuk telur. Kejadian ini saya saksikan di hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Telur-telur Maleo yang tersimpan dalam tanah hangat hampir semuanya membusuk, termasuk yang akan menetas. Meskipun suhu panasnya stabil, namun derajat kejenuhan air dalam tanah telah membunuh satwa langka ini.

Bersama staf Wildlife Conservation Society (WCS) saya menjadi saksi bencana ini. Bau busuk telur menyengat, kejadian luar biasa.

Begitulah suka duka liputan bencana banjir, namun gerimis ringan juga bisa membuyarkan pekerjaan. Ini biasa dilakukan saat meliput pertandingan sepak bola. Berdiam diri di pinggir lapangan menunggu momen. Gerimis ringan, bila terus mengguyur akhirnya mengusir saya dari pinggir lapangan.

Lembab dan air adalah musuh fotografer, karena keduanya bisa memperpendek usia kamera dan membiakkan jamur dalam lensa. Tapi hujan air harus disyukuri, sebab saya pernah mengalami hujan batu saat meliput pertandingan Persela Lamongan dan Persija di Lamongan, Jawa timur. Dari luar stadion, ribuan batu dilemparkan dan beterbangan. Untunglah punya tas kamera tebal dan empuk sebagai tameng kepala.

Hujan dan dampaknya selalu menjadi perhatian siapapun yang tertarik, bahkan semua negara memiliki instansi yang mengurusi soal iklim. Dalam sejarah suku-suku besar, peramalan cuaca, dan juga ilmu perbintangan telah berkembang dengan pesat. Dengan alat sederhana, mereka membaca dan merasakan fenomena. Saatnya kita lebih dekat dengan alam…

Iklan

Tentang GORONTALO HOLIDAY

Warga Gorontalo yang menyukai pertemanan, diskusi dan sedikit fotografi serta tulis-menulis
Pos ini dipublikasikan di Alam dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Meliput Hujan dan Banjir : Tegang dan Asyik!

  1. vandy berkata:

    bung rosyid…apakah ada dokumentasi foto banjir di kampung bugis ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s