Bakdo Kupat, Ngaku Lepat, Laku Papat, Hingga Perayaan Kekinian

Setelah puasa sunat Syawal, Warga Jawa Tondano (Jaton) merayakan Bakdo Kupat sangat meriah. Jalinan silaturahmi diperkuat dalam banyak keragaman.

GORONTALO, KOMPAS.com –  Sejak kemarin asap putih tak henti membumbung dari desa-desa yang dihuni masyarakat Jawa Tondano (Jaton).

Asap ini keluar dari pembakaran nasi bulu (nasi bambu) sebutan lain untuk nasi jaha, plesetan nasi jahe karena untuk pembuatan nasi ini menggunakan berbagai macam rempah, termasuk santan dan jahe.

Ketupat yang siap makan disajikan di pinggir jalan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo. Semua warga dan wisatawan bebas makan sekenyangnya.

“Kalau desa-desa Jawa Jaton sudah berasap pertanda lebaran ketupat segera dilaksanakan,” kata Indra Dunggio, warga Kota Gorontalo berkelakar.

Ya! Nasi bulu atau nasi jaha adalah salah makanan khas yang selalu tersedia saat bakdo kupat atau lebaran ketupat. Nasi bulu selalu mendampingi ketupat beraneka bentuk,  beragam lauk, dan tentu jenang, makanan khas Jaton.

Meriahnya bakdo kupat di masyarakat Jaton melebihi Idul Fitri, bahkan dipastikan Desa Yosonegoro dan sekitarnya, Kaliyoso, Reksonegoro dan Mulyonegoro terjadi kemacetan. Desa-desa Jaton inilah yang menjadi pusat keramaian setiap tahunnya.

Har ini jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan ke bandar udara Jalaluddin Tantu separuhnya digunakan untuk merayakan pesta ketupat. Lebih dari 40 tenda yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo menawarkan makanan gratis bagi siapa saja yang ingin memuaskan naluri kulinernya.

“Semua gratis untuk pengunjung, silakan dinikmati,” kata Iqbal Hasan, warga Gorontalo yang berada di tenda salah satu instansi.

Ketupat masak berwarna kecoklatan yang tergantung siap santap menghiasi tiang-tiang  tenda, di sebelahnya terdapat meja yang terdapat beberapa panstuf berisi lauk dan peralatan makan.

Dinas Pariwisata yang awalnya menganggarkan dana untuk pembuatan 40.400 ketupat ternyata oleh para pengrajin hanya sanggup dipenuhi 34.331 buah ketupat pada hari ini.

Jumlah ini yang kemudian dicatat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI)  sebagai jumlah makan ketupat terbanyak di dunia.

“Kami memberi 1000 buah ketupat dan menu lainnya untuk setiap tenda yang dikelola Organisasi Pemerintah Daerah, sementara yang harus disediakan oleh mereka adalah menu makanan tambahan,” kata Nancy Lahay, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.

Sejak pagi, aroma harum makanan tercium di seluruh desa, bahkan ruas jalan Trans Sulawesi tak luput dari aroma penggoda selera. Ditambah lagi cuaca yang dingin-mendung menambah semangat untuk merayakan pesta ketupat ini.

Sebelum pesta ketupat dimulai, masyarakat Jaton menggelar doa keselamatan dan tolak bala di masjid. Suasana doa khusuk, masing-masing orang larut dalam suasana khidmat.

Usai berdoa, seseorang yang telah ditugasi menabuh bedug lalu mengambil pemukul dari kayu. Dengan sekuat tenaga ia ayunkan pemukul ini di membran kulit sapi yang dilekatkan di kayu berlubang tengahnya.

Bunyi beduk ini seperti mengajak mengenang masa lalu, saat-saat pertama mantan prajurit Perang Jawa berada di tepi Danau Tondano merayakan bakdo kupat pertama kali, sangat sederhana karena hanya dirayakan oleh segelintir orang. Namun yang sederhana bukan berarti tanpa makna, justru kesederhanaan inilah yang memperkuat tradisi ini hingga lestari sampai saat ini.

Lamat-lamat bunyi beduk menghilang, keriuhan dimulai. Masing-masing rumah membuka pintu untuk para tetamu yang telah datang. Mereka menyilakan masuk dan langsung menyuguhinya dengan hidangan terlezatnya sambil bercengkerama. Suasana kekeluargaan penuh harmoni tercipta.

Selain ketupat yang dibuat Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, masing-masing keluarga juga menyediakan makanan ini. Bahkan mereka membekali tetamu mereka dengan jenis makanan lain saat pamit pulang, jenang dan nasi bulu.

Untuk menyiapkan makanan ini, kaum perempuan Jaton adalah yang paling sibuk. Mereka harus bertanggung jawab atas ketersediaan makanan dan cita rasanya, belum lagi membereskan semua bagian rumah untuk menyambut ketangan tetamu.

“Kami baru bisa lepas dari dapur setelah jam 12 malam, bahkan banyak yang sampai shubuh” kata Nuraini Thayeb.

Ia tidak mengeluh, bahkan kerja keras yang dilakukan adalah kesenangan yang datang setahun sekali untuk menyambut saudara yang datang. Mereka memberikan yang terbaik yang mereka punya.

Bagi masyarakat Jaton, bakdo kupat memang istimewa. Sebab para leluhur mereka mewariskan tradisi melanjutkan puasa sunat Syawal setelah selesai puasa Ramadan yang dimulai 2 Syawal. Pada 1 Syawal tidaka ada puasa karena memang ada larangan untuk berpuasa.

“Bakdo kupat ada muara dari silaturahmi seperti yang dilambangkan oleh ketupat itu,” ujar Muhammad Wonopatih, Imam Masjid Desa Reksonegoro yang juga tokoh budaya Jaton.

Ia menjelaskan, bakdo kupat memiliki makna penyatuan banyak orang, keluarga, harapan, keberhasilan dan lainnya dalam satu siklus tahunan. Penyatuan ini dilambangkan dengan pertemuan antara beras, rempah-rempah, daging, santan kelapa dalam satu ikatan anyaman janur, daun kelapa muda.

Banyak unsur ini tidak hanya bersatu secara fisik, namun juga melahirkan keindahan dan kenikmatan cita rasa. Sebuah harmoni kehidupan yang tercipta sempurna.

“Ketupat telah menyatukan yang berserak di mana-mana, dan memberi sinergi dan menginspirasi untuk menata kehidupan berikutnya,” ujar Muhammad Wonopatih.

Pada momen bakdo kupat inilah seluruh keluarga berkumpul  dan bersatu, mereka bersilaturahmi membincang masalah kehidupan sehari-hari, menyelesaikan masalah dan membuat musyawarah untuk rencana ke depan yang lebih baik.

Tradisi pertemuan dalam kesatuan di momen ini telah memebri energi sosial yang lebih besar. Ini dibuktikan dengan tradisi yang selama ini dijalani telah memberi ruang hidup yang lapang bagi pengembangan kebudayaan Jaton.

Masyarakat Jaton memberi sumbangsih bagi pengembangan bidang pertanian dan transportasi di wilayah Sulawesi Utara pada masanya. Ini yang membuat masyarakat Jaton terterima di mana saja dalam diasporanya.

“Siapa saja bisa datang saat bakdo kupat, ini bukan hanya untuk orang Jaton saja,” ujar Muhammad Wonopatih.

Bagi masyarakat Jaton, kupat tidak hanya janur berisi nasi. Kupat memiliki makna filosofi yang dalam. Kupat berarti ngaku lepat, mengaku salah kepada saudara atas segala salah dan khilaf. Perasaan saling memafaatkan inilah yang kemudian diwujudkan dalam sebuah anyaman janur yang disebut kupat.

Kupat juga memiliki makna Laku Papat, melakukan 4 perkara, lebaran, leburan, luberan dan laburan.

Lebaran bermakna menuntaskan puasa Ramadan selama 1 bulan penuh dan melanjutkan puasa sunat Syawal, amalan ini juga penting dan utama untuk dilaksanakan. Ibadah 2 puasa ini harus tuntas, selesai.

Leburan berarti memberi dan meminta maaf atas semua salah dan khilaf. Hubungan antar individu dan sosial akan tertata rapi kembali tanpa ganjalan. Semuanya telah diikhlaskan.

Luberan yang berarti meluap, bermakna kewajiban menunaikan zakat fitrah dan zakal mal (harta benda) oleh setiap orang Jaton kepada warga yang kurang mampu. Zakat ini memiliki dimensi  sosial yang tinggi, menguatkan jalinan silaturahmi, membersihan harta benda dan menyantuni fakir miskin.

Sementara labur memiliki makna melabur hati agar putih bersih setelah semua kewajiban yang bersifat individual dan sosial ditunaikan. Laburan ini menjadi seorang muslim yang paripurna.

“Di masa lalu, bakdo kupat sebagai sarana mensyukuri nikmat Allah SWT. Inti perayaannya meninjau kembali adat istiadat dan ibadah agar dibuat rencana lebih baik. Biasanya dibicarakan juga masalah ekonomi seperti kapan dimulai waktu semai padi,” kata Asrul Tumenggung Zees, warga Jaton di Tondano.

Yang unik dan tidak berubah dari bakdo kupat ini adalah, siapapun bisa datang untuk merayakan di mana ia suka, tetamu  yang tidak dikenalpun akan diterima dengan lapang dada dan dipersilakan menikmati kupat dan lawok (lauk).

“Kalau perayaan dulu dilaksanakan di masjid dengan makan ketupat bersama. Lauknya berupa sambel goreng yang berbahan pepaya teto (cincang) dan bumbu tumbok (kacang bercampur rempah),” kata Idris Mertosono, penggiat budaya Jaton.

Yang juga menarik dari perayaan ini adalah jenis ketupat yang disajikan. Orang Jaton mewarisi teknik pembuatan ketupat yang beragam, bahkan mereka mampu mengembangkan teknik ini menjadi beberapa model ketupat yang unik, tidak hanya indah dilihat namun juga masih memiliki fungsi sebagai wadah beras untuk dimasak.

“Kami mengenal 4 macam bentuk anyaman ketupat, bawang,  into (jantung), panggang dan luar,” Idris Mertosono menjelaskan.

Persentuhan masyarakat Jaton dengan Gorontalo ini telah memberi semangat baru dalam kehidupan. Orang Jaton dikenal sebagai pembuat gerobak yang handal, juga alat-alat pertanian. Hasil interaksi sosial ini telah memberi kontribusi bagi kemajuan daerah sekitar.

Demikian juga dengan tradisi yang dibawanya, kesenian tumbuh menghiasi kehidupan, termasuk tradisi kupatan yang sekarang diadopsi dan dirayakan oleh kelompok masyarakat lain.

Kini bakdo kupat telah menjadi perhelatan yang besar, tidak hanya milik masyarakat Jaton meskipun perayaannya masih dipusatkan di desa Jaton.

Pemerintah telah melihat tradisi ini sebagai potensi wisata yang dapat dikembangkan untuk menyejahterakan masyarakat. Yang tadinya hanya kupat tradisional bersanding lauk sambel goreng pepaya teto dan bumbu tumbok ini dikemas dalam kegiatan yang melibatkan ribuan bahkan ratusan ribu orang.

Sanak saudara yang masih berada luar daerah diundang, wisatawan lainnya diiming-imingi agar menyaksi dan terlibat dalam pesta kolosal ini. Mereka datang ke Gorontalo tidak hanya lenggang kangkung, mereka juga membawa saku yang dipenuhi rupiah untuk dibelanjakan di desa.

Di sepanjang jalan desa di Yosonegoro, Organisasi Pemerintah Daerah Provinsi Gorontalo berlomba membuat stand semenarik mungkin, hiasan ketupat dan sajian menu lainnya diekspos meriah.

Warga yang datang dapat makan gratis sepuasnya. Inilah upaya Dinas Pariwisata dalam mendorong percepatan pembangunan melalui Gebyar Ketupat, salah satu kegiatan tahunan kepariwisataan.

“Kami menyediakan lebih dari 40 ribu ketupat untuk dinikmati bersama, ini masih hari raya,” kata Nancy Lahay, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.

Di sinilah bakdo kupat berperan mendinamika pasar pariwisata Gorontalo. Belum lagi dihitung berapa banyak pasar-pasar tradisional yang dipenuhi warga Jaton menawarkan aneka ketupat, sayuran, daging, dan lainnya.

Di Gorontalo, orang Jaton masuk pertama kali melalui proses pendidikan saat Guru Amal Mojo, cicit Kiyai Mojo diutus menjadi guru di Limboto pada tahun 1900. Karena sering pulang ke Tondano dengan alasan kangen keluarganya, pemerintah waktu itu meminta Guru Amal Mojo membawa serta keluarganya ke Gorontalo. Maka perangkat desa dan keimaman masjid pun dibuat secara resmi dengan nama Desa Yosonegoro.

Tidak berapa lama kemudian gelombang masyarakat Jaton datang ke Gorontalo untuk mendirikan Desa Kaliyoso, dan tahun 1925 datang lagi rombongan lainnya yang kemudian mendirikan Desa Reksonegoro. Setelah agak lama, baru muncul kantong-kantong permukiman warga Jaton, Mulyonegoro dan Bandung Rejo.

Iklan

Tentang GORONTALO HOLIDAY

Warga Gorontalo yang menyukai pertemanan, diskusi dan sedikit fotografi serta tulis-menulis. Bisa dihubungi di 081244440688
Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s